Batas Kawin



Saya terdiam saat teman lama saya itu menanyakan apakah saya sudah punya momongan atau belum. Dalam hati saya menyesalkan pertanyaan itu. Pertanyaan yang membuat saya seolah seorang lelaki berumur yang perlu belas kasihan orang untuk melakukan satu hal : mencarikan jodoh. Tetapi walaupun begitu, saya tidak akan mengeluarkan kata-kata kasar sebab sebagaimana mestinya adat orang timur yang penuh sopan santun, juga dia adalah teman saya yang sudah lama tidak berjumpa. Tidak sopan rasanya apabila saya mengalihkan dia untuk memberikan pertanyaan lain. Mungkin saat saya terdiam dia akan berpikir bahwa benar saya telah menikah lantas dikaruniai seorang atau dua orang anak tetapi kehidupan perkawinan saya tidak bahagia. Mungkin juga saat ini dia tengah memikirkan pertanyaan selanjutnya yang akan membuat saya lebih bengong lagi. Entahlah, saya juga masih bingung dengan pikiran saya sendiri. Saya hanya tengah menyelami dasar samudera kehidupan saya yang menurut sebahagian orang sudah waktunya untuk menikah namun saya masih betah melajang.
            Dalam batin saya yang jujur, saya membenarkan tindakan teman lama itu untuk mengeluarkan pertanyaannya tadi sebab baru semalam saja orang tua saya menyindir-nyindir saya untuk segera mencari calon pendamping oleh karena mereka tengah menonton salah satu acara ‘Pencarian Jodoh’ di televisi. Bah, begitu hebatnya acara itu hingga memiliki rating yang bagus dan dengan serta-merta orang tua saya pun mengiris-iris perasaan saya dengan menyinggung masalah kawin. Padahal menurut batin saya yang lain, acara itu hanya dipakai untuk numpang memajang tampang saja karena mereka cantik-cantik dan ganteng-ganteng, masa tidak dapat jodoh walaupun hanya tukang beca ataupun tukang jamu gendong? Kembali saya mengaca ke teman saya. Dia kini berbahagia dengan suami dan anaknya. Saya sedikit malu melihat mereka begitu serasi bergandengan tangan menonton bazaar di mall ini. Sedangkan saya?
            Kekhawatiran orang tua saya cukup beralasan mengingat usia saya yang bisa di bilang tidak muda lagi. Dua puluh sembilan tahun. Dengan usia ini saya seolah diberi ultimatum satu tahun lagi untuk mencari seorang istri. Istri? Padahal pacar saja saya belum punya! Jika dilihat dari tampang, saya masih berani mematok dua jempol, tapi jelas saya bukan brondong lagi. Jika dilihat dari riwayat pekerjaan, saya berani menjamin tidak bakal kelaparan walaupun saya tidak bekerja selama tiga bulan. Namun tetap saja saya seorang lelaki yang belum laku! Lelaki yang karena ketampanannya banyak ditolak wanita. Ironis memang. Menurut hemat saya, kawin hanyalah sebuah penjara bagi saya yang masih memiliki angan untuk tidak di kekang. Betapa tidak, banyak sudah teman-teman saya yang telah kawin namun kini seolah menyesalkan tindakan mereka yang kawin muda. Mereka bercerita betapa hari-hari mereka begitu terkekang karena setiap waktu senggang dihabiskan di rumah padahal mereka ingin hang-out dengan teman-teman. Apalagi bila saat anak mereka menangis meraung-raung padahal mereka baru saja menginjakkan kaki di rumah, tidak ada ketenangan sedikit pun.
            Hari ini Ibu dengan bijaksana dan hati-hati mengemukakan pendapatnya untuk mencarikan saya jodoh. Menurut Ibu, gadis ini seorang gadis cantik dari keturunan baik-baik pula. Anak teman arisannya yang seorang keturunan darah biru dari kota Solo. Menurut Ibu lagi, dia cocok dengan saya karena si gadis memunyai hobi yang sama dengan saya yaitu membaca, menulis cerpen dan puisi, mendengarkan musik dan melukis. Saya heran, mengapa hobi kami sama persis. Apakah memang benar atau hanya buatan ibu saja agar saya mau dikenalkan dengan si gadis? Saya mulanya agak keberatan mengingat ini bukan lagi zamannya jodoh-menjodohkan, tapi apa salahnya jika saya coba, toh tidak ada ruginya. Siapa tahu kami memang berjodoh lantas menikah.
            Hari perkenalan tiba. Saya, dengan t-shirt putih di padukan dengan kemeja biru, melangkah gugup memasuki restoran mewah tempat Ibu membuat janji dengan temannya. Saya gugup bukan karena tidak biasa makan di restoran mewah, tapi lebih kepada suasana batin saya yang tengah menerka bagaimana bentuk gadis yang akan dikenalkan Ibu kepada saya. Hidungnya mancung atau pesek? Badannya wangi atau malah bau? Cantik atau malah seperti monster? Zaman sekarang wanita banyak yang menjajah pria. Baik menjajah dengan kecantikannya maupung menjajah dengan bujuk rayunya. Dan saya tidak mau dijajah wanita. Saya lelaki, dan seorang lelaki selalu di atas wanita. Dengan gagah Ibu melangkah menuju meja yang berada di ruangan VIP. Sementara saya mengikuti Ibu dari belakang seperti anak itik yang mengikuti induknya. Saya agak gugup, sebab apabila salah satu karyawan saya melihat saya seperti ini, pasti besok pagi di kantor akan ada gosip baru yang lebih heboh dibandingkan kasus perselingkuhan salah satu artis ibu kota.  Meja itu sudah terlihat. Beberapa langkah lagi kami sampai. Saya lihat disana telah duduk seorang Ibu berkebaya indah dengan putrinya. Sayang sekali gadis itu duduk membelakangi saya. Dan akhirnya...
            “ Hey, jeng. Akhirnya sampai juga. Saya khawatir lho jika Jeng enggak jadi dateng,” sambut si ibu berkebaya sambil menyambut Ibu saya. Cupika-cupiki. Khas wanita. Saya menunggu saja.
            “ Maaf Jeng, agak terlambat. Habis tadi dari mampir ke butik sebentar. Biasa ngecek barang udah dateng atau belum,” jawab Ibu.
            “ Ini anak jeng yang jeng ceritakan itu?” saya mengangguk seraya tersenyum. Saya lihat si ibu berkebaya memandang saya dari ujung rambut hingga ujung kaki. “ Wah gantengnya. Cucok jeng sama anak saya.” Keduanya tertawa renyah. “ Rita, ini lho anak tante Ratih, ayo berkenalan dulu.” Dan saya terkejut melihatnya! Dia ‘kan....
             ***
            Itulah saya. Bagi sebahagian orang mungkin menyalahkan saya karena menurut mereka apalagi yang saya cari. Pekerjaan? Mapan. Kendaraan? Mewah. Tampang? Keren. Apalagi coba yang menghalangi niat saya untuk segera mencari calon istri lantas kawin? Menurut teman, saya terlalu pemilih. Mencari gadis yang sempurna luar dalam. Itu memang saya akui. Saya tidak mau asal pilih untuk menjadi pendamping saya hingga akhir hayat. Tapi apa ada wanita seperti itu? Padahal jika di tanya kriteria wanita idaman saya standar saja. Cantik, menarik, pintar, dan cocok di hati saya. Mungkin kreteria ke empat ini yang selalu menghalangi saya untuk segera mencari calon istri. Ada juga yang mencap saya sebagai gay. Ini yang paling keras. Alasan mereka, mana ada lelaki normal dan mapan yang tidak juga menikah padahal usia hampir genap kepala tiga  selain homoseks? Saya agak terganggu dengan cap itu. Bagaimanapun juga saya seorang lelaki normal. Saya masih merasakan daya tarik yang kuat dengan seorang wanita. Saya juga merasa terangsang apabila ada wanita yang berdandan seksi berlenggak-lenggok di depan mata saya. Saya juga mengoleksi beberapa majalah playboy untuk waktu suntuk saya. Lalu mengapa mereka memberi cap itu kepada saya?
            Seingat saya, saya tidak pernah berkencan dengan sesama lelaki, atau hal yang mendasar seperti menyukai sesama jenis. Saya juga tidak mengoleksi film ataupun majalah yang bertema gay. Saya tidak pernah masuk ke diskotik tempat para gay membuat komunitas sendiri. Pokoknya saya tidak pernah berhubungan dengan dunia ‘abu-abu’ itu. Kecuali pemilik salon pangkas rambut yang menjadi langganan saya yang banci itu. Apakah karena itu saya lantas mendapat cap gay? Saya rasa tidak karena penyedia layanan jasa salon itu memunyai langgan dari berbagai kalangan baik lelaki maupun wanita. Saya mulai berpikir positif, mungkin mereka mengatai saya gay karena saya selalu berdandan dandy. Atau karena saya selalu berparfum mahal dan bersisir bak selebriti. Atau karena saya tidak punya pacar?  Semua kemungkinan itu ada dan saya mengakui jika saya belum sanggup untuk mencari pacar.
            Setiap saya berkumpul dengan teman-teman yang sudah menikah, dapat dipastikan mereka akan menyindir saya dengan hal-hal yang berbau rumah tangga. Tono menyindir dengan menceritakan betapa anaknya yang berusia tiga tahun itu sangat hapal salah satu lagu grup band ST 12 meskipun bicaranya masih cadel. Iwan, si Polisi, menyindir saya dengan bercerita betapa semalam dia hampir kehabisan tenaga, bahkan hampir tidak dapat bangun lagi, karena istrinya meminta jatah sampai empat ronde. Lain lagi dengan Alex, si hitam manis, bercerita sudah beberapa hari ini si istri datang bulan jadi dia terpaksa melakukan ‘olahraga tangan’ demi menutupi gejolak birahinya. Saya semakin jengah. Apakah mereka sengaja menceritakan itu agar saya terpancing lantas sesegera mungkin menikah? Apakah mereka menceritakan kehidupan rumah tangga mereka sebagai jawaban dari pencarian saya selama ini?
***
            Sambil tiduran saya membuka kembali foto album kenangan sewaktu SMA dulu. Ada kerinduan yang menyesak saat melihat satu persatu foto saya dulu dengan teman-teman. Wajah-wajah lugu di foto itu kini mungkin sudah ada yang berkeluarga. Mereka berbahagia dengan keluarga mereka seperti teman saya yang saya temui dulu di bazaar. Mungkin juga sudah ada yang meninggal dunia karena sakit atau karena kecelakaan seperti Rafael yang terlindas bus AKAP ( Antar Kota Antar Provinsi) tiga tahun lalu. Semua ingatan itu kembali, saya merasakan semakin sesak dada saya. Di tengah-tengah album ada satu foto yang membuat jantung saya berdetak. Di dalamnya ada satu wajah cantik yang pernah mengisi kehidupan saya. Wanita yang selama tiga tahun di SMA mengisi hari-hari saya sebagai pacar pertama saya. Luar biasa. Dunia saya sangat benderang ketika itu. Penuh janji jika suatu hari kami akan menikah dan membina rumah tangga dengan atau tanpa anak. Janji untuk sehidup semati. Tetapi apa lacur? Tahun ke tiga mendekati ujian EBTANAS, kalau sekarang Ujian Nasional, saya merasa bahwa diri ini seperti seekor monyet di sebuah pertunjukan badut. Pacar saya hamil dan yang menghamilinya bukan saya tapi Yongky, teman sekelas yang juga naksir dengan cewek saya. Hebatnya, Yongky mengatakan jika mereka berdua sudah berhubungan sejak tahun ke dua! Brengsek!
            Saya melemparkan album itu ke lantai. Saya kesal. Marah. Saya merasa dibohongi. Saya jadi teringat mungkin itulah alasan saya untuk tidak segera kawin. Takut jika istri saya berselingkuh! Ah, dunia ternyata tidak seindah yang saya rasakan. Dunia hanya dipenuhi rutinitas cinta yang melelahkan. Saya tidak mau terkekang dengan hal-hal yang menyita waktu saya seperti apel malam minggu, menemani berbelanja, jalan-jalan di taman dan semua rutinitas yang membosankan lainnya. Biarlah, kelak waktu yang akan menjawab semua ini. Sampai tiba waktunya saya merasa bosan hidup sendiri. Namun anda jangan berpikir bahwa saya lelaki jalang yang hangat di tiap lekuk tubuh wanita. Saya tidak pernah terlibat seks terlarang dengan siapapun meski peluang untuk itu sangat banyak. Jika saya mau, setiap satu jam sekali saya bisa berganti pasangan. Setiap satu jam saya bisa merasakan surga dunia dengan wanita yang datang hanya dengan kerlingan mata. Setiap satu jam bisa melakukan adegan intim yang pernah saya khayalkan sewaktu tidur malam. Pokoknya semua yang berbau dada dan paha. Sampai sejauh ini saya masih perjaka. Keperjakaan saat ini sangat mudah terlepas dari seorang lelaki seperti layaknya dendolion yang beterbangan di tiup angin. Hal itu justru tidak berlaku bagi saya. Sampai usia memasuki kepala tiga saya masih mempertahankannya. Kuno? Memang saya berpikiran kuno. Menurut saya keperjakaan adalah awal dari kejujuran berumah tangga. Itu menuntut perjuangan. Tidak mudah mempertahankannya ditengah dunia yang menggila. Saat SMP ada teman yang bercerita jika dia selalu melakukan hubungan suami-istri setiap apel ke rumah pacarnya. Entah mereka melakukannya di sofa, karena saat itu rumah kosong. Di taman belakang. Pokoknya dimana saja. Ada juga yang bercerita bahwa kadang anunya lecet karena ceweknya suka sekali melakukan ....... ah, gila semuanya. Cerita itu seolah menjadi momok buatku yang hingga saat ini masih perjaka alias masih membujang.
***
            Menurut ramalan bintang, saya hari ini akan menemukan cinta sejati saya. Bahkan dengan yakinnya, ramalan itu mengatakan akan mempertemukan saya dengan seseorang yang akan menjadi pendamping hidup saya. Oleh karena itu kali ini saya manut saja ketika Ibu ingin mempertemukan saya dengan anak teman arisannya yang berasal dari keluarga ningrat Solo. Setelah Ibu membuat janji dan setelah saya merasa seperti anak itik dibelakang induknya, akhirnya sekarang saya berhadap-hadapan juga dengan teman Ibu yang kelak memperkenalkan saya dengan putrinya.
            “ Jeng kok enggak bilang-bilang sih kalau punya anak lelaki yang ganteng kayak gini.” Ibu hanya tersenyum.
            “ Anak zaman sekarang suka membantah jika mau dikenalkan dengan teman Ibunya. Takut jika dijodohkan. Tapi syukurnya Alfin enggak seperti itu.”
            “ O, jadi namanya Alfin?” tanya teman Ibu sambil melirik saya. Saya menganggukkan kepala. Si Ibu berkata kepada anaknya, “Rita, ini lho anak tante Ratih, ayo berkenalan dulu.”
Saya bersiap-siap untuk menatap secara langsung anak teman Ibu itu. Sepertinya cantik. Si wanita berdiri, lalu dengan gemulainya membalikkan badan menghadap saya. Tapi tiba-tiba saja saya sangat mengenal wanita itu. Lho, itukan gadis yang pernah saya tolak sewaktu kuliah? Sepertinya dia juga terkejut dengan pertemuan ini. Luar biasa. Anak itik yang buruk rupa dulu telah berganti menjadi Cinderella. Ajaib. Itulah satu kata yang mungkin keluar dari mulut saya yang melongo. Rambutnya yang tergerai hingga bahu. Hidungnya yang mancung. Leher jenjang. Kulit putih bersih. Dan wow.... bodynya sangat oke. Saya hampir saja jatuh terduduk saat tangan yang mulus itu terjulur.
“ Rita,” salamnya. Saya salah tingkah saat tangan kami berjabat. Jantung saya berdetak lebih cepat. Oh, Tuhan....
“ Alfin.”
“ Kayaknya kita pernah ketemu ya.”
“ Ah, masa? Kayaknya belum deh. Jarang saya ketemu dengan cewek secantik kamu.”
“ Ah, bisa aja...”
Saya berpikir betapa hebatnya ramalan zodiak di majalah itu. Ramalan yang sangat akurat. Saya seperti mendapat durian runtuh. Entah mimpi apa saya semalam hingga hari ini saya tidak perlu lagi memikirkan sindiran teman-teman yang sengaja mereka buat agar saya merasa tersindir. Terima kasih, Bu. Kini Ibu tidak perlu lagi khawatir anakmu jomblo seumur hidup. Ha, ha, ha, ha..
***
Krui, 21 Mei  2010 2:2:35 PM

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

{{ date }}
{{ time }}
BIRU ANGIN

Postingan Populer

My Profil

Foto saya
Hidupmu takkan berubah jika kau hanya berpangku tangan

Recent Posts