Dimenche, 3 Octobre 7:00:11[1]
Setiap kali Luther melewati jalan Broadway dia selalu bertemu dengan wajah itu. Wajah yang membuat dia senyum-senyum sendiri. Membuat dia lebih suka mendengarkan lagu-lagu bersyair romantis padahal dulu pendengar setia Jazz dan Blus. Wajah yang selalu menari dimatanya kala malam tiba. Ada kata puja yang ingin dia sampaikan tetapi setelah berpapasan, apalagi memandang mata beningnya, maka bibir tipis lelaki itu seakan terpateri. Ada rindu yang semakin lama semakin menggebu. Padahal secara fisik, gadis itu kalah cantik dengan Ellen, si Perancis yang hobinya main ice skating. Juga bila disandingkan dengan Chaterina yang selalu berparfum mahal ala Paris. Bahkan dengan Celline anak tetangga yang suka sekali rock ‘n roll. Tentu saja itu bukan alasan utama kenapa Luther mengagumi gadis itu. Menurutnya gadis itulah gadis yang sempurna. Dia begitu alami tanpa sapuan bedak dan gincu. Dia tidak perlu Belluci untuk menarik simpati. Dia tampil apa adanya. Itu menarik pikir Luther.
Seperti pagi ini. Ketika Luther berangkat ke tempat biasa dia bekerja, kios bunga gadis itu sudah buka. Bunga mawar berjejer rapi di dalam pot-pot plastik. Lili dan tulip memberi sentuhan romantis diantara krysan yang bermekaran. Hidung Luther menangkap wangi. Dadanya menabuh rindu. Matanya tak lepas dari gadis yang sibuk menata bunga di kios itu. Ingin sekali dia menyapa, tetapi cuma senyum dan anggukan ketika gadis itu memergokinya tengah memandanginya dengan lekat-lekat.
Setelah sampai di bawah pohon berdaun merah, tempat biasa dia mangkal, diletakkannya tas selempang dan kayu dudukan kanvas. Dari dalam tas dikeluarkannya berbagai macam alat lukis dan beberapa gulungan kanvas. Karpet kecil dia gelar, kemudian duduk, membuka gulungan kanvas dan melekatkannya di dudukan yang terbuat dari kayu. Cat dan kuas dia tata rapi di tempat yang terbuat dari bambu. Beberapa lukisan yang sudah jadi dia pajang di pohon. Setelah dirasa cukup dia kembali mengatur beberapa konte dan penghapus. Sesekali dia melemparkan pandangannya ke depan. Ke arah kios bunga. Kios itu mulai dipadati pembeli. Si gadis terlihat tengah melayani dengan ramah. Orang-orang sudah mulai memadati jalan. Para pekerja harian, buruh bangunan, eksekutif, anak-anak sekolah, dan semua yang mempunyai kepentingan untuk melewati jalan ini.
Beberapa pengguna jalan tampak tertarik dengan lukisan yang dia pajang. Terlihat dari tatapan mereka yang mengatakan ‘Bagus sekali lukisan itu..’ walaupun bibir mereka tidak mengatakan sepatah kata pun. Luther si Pelukis Jalanan, sangat ahli membaca pikiran orang. Dia sangat hapal antara calon pembeli yang akan membeli lukisan dengan calon pembeli yang sekedar melihat-lihat, hanya dari mimik wajah saja. Bahkan dia bisa membedakan mana calon pembeli yang suka menunjukkan kejelekan lukisannya kemudian menawar lukisan itu dengan harga murah dengan calon pembeli yang benar-benar membeli karena tahu lukisan itu bernilai seni.
Selain menjual lukisan, Luther juga menyediakan jasa melukis sketsa. Diantara calon pembeli itu ada yang minta di lukis wajahnya saja atau separuh badan hingga seluruh badan. Luther cukup meluangkan waktu sepuluh hingga dua puluh menit untuk satu lukisan tergantung pada tingkat kerumitan dan dimensi lukisan. Semakin rumit dan besar dimensi lukisan maka semakin mahal pula lukisan itu. Harga seringkali tidak menjadi patokan, yang penting kepuasan pelanggannya. Bagi lelaki dua puluh tahun itu seni adalah hidupnya. Lukisan adalah jiwanya. Dengan melukis dia dapat menjamah dunia yang selama ini tidak pernah ditemuinya di alam nyata. Dunia yang kini mempertemukannya dengan gadis penjual bunga.
Luther sesekali memandang kearah kios bunga. Dengan ekor matanya dia melirik gadis berambut panjang itu. Ingin sekali dia mengobrol dengannya. Tetapi dia tidak yakin apakah dirinya mampu untuk menatap gadis dengan sinar mata yang mampu meluluhkan hati setiap pria diatas dunia ini. Sudah hampir dua kali musim semi, dia tidak juga mampu memantapkan hatinya untuk menyapa gadis itu. Bahkan nama gadis itu dia pun tidak tahu. Cinta memang rumit tapi indah, seindah syair puisi yang di tulis oleh pujangga kenamaan yang dikaguminya.
Karena cinta duri menjadi mawar
Karena cinta suka menjelma anggur segar
Karena cinta pentungan menjadi mahkota penawar
Karena cinta kemalangan menjelma keberuntungan
Karena cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar
Karena cinta tumpukan debu kelihatan sebagai taman
Karena cinta api yang berkobar-kobar menjadi cahaya yang menyenangkan
Karena cinta setan berubah menjadi bidadari
Karena cinta batu yang keras menjadi lembut bagaikan mentega
Karena cinta duka menjadi riang gembira
Karena cinta hantu berubah menjadi malaikat
Karena cinta singa (tak menakutkan) seperti tikus
Karena cinta sakit menjadi sehat
Karena cinta amarah berubah menjadi keramah-tamahan
Luar biasa. Luther terkadang meneteskan air matanya demi membaca bait demi bait syair puisi dari penulis kenamaan itu. Ingin sekali dia seperti pujangga itu, agar setiap detak jantung dan helaan nafasnya selalu dipenuhi dengan bait kata cinta. Kemudian detak jantung dan helaan nafas yang telah penuh kata cinta itu dia berikan kepada gadis penjual bunga itu sebagai bukti cinta telah ada. Baru kali ini dia merasakan perasaan itu menusuk dalam jantungnya. Apakah cinta ini akan seabadi cinta Shah Jahan dengan istrinya Banu Begum Mumtaz Mahal? Atau akan berakhir tragis seperti kisah cinta Jack Dawson dan Rose Dewitt Buketer dalam film Titanic yang pernah dia tonton di sebuah pusat perbelanjaan? Dia sendiri tidak yakin dengan perasaanya. Apakah ini benar cinta?
Luther tidak pernah mengharapkan cintanya akan berbuah manis karena dia meyakini sejatinya cinta itu tidak harus memiliki. Terkadang nestapa menghadang layaknya badai yang menerjang semua yang menjadi penghalang. Tetapi dia mengharapkan satu hal saat ini, menyapa gadis itu.
***
Dengan sedikit tergesa Luther menuju ‘galeri’nya. Hari ini dia ‘sedikit’ terlambat. Semalam dia menunggui salah seorang adik asuhnya yang sakit demam hingga larut malam. Memang tidak mudah hidup di kota yang menjadi pusat mode dunia ini. Penuh perjuangan. Kerja keras dan berani mengambil resiko patut dikedepankan. Dia rela menghabiskan waktunya menjadi pelukis jalanan. Dia tidak pernah merasa putus asa walaupun pemuda seusianya seharusnya tengah belajar di bangku kuliah. Dia tidak pernah malu karena jika hari ini dia tidak bekerja maka adik-adiknya di panti tidak akan bisa makan malam. Setelah menyusun semua perlengkapan lukisannya, sambil sesekali melirik ke arah toko bunga, dia duduk termenung. Masih terngiang kata-kata Ibu asuhnya semalam.
“ Luther,” panggil wanita setengah baya itu. Luther duduk mendekat. Disamping mereka, di atas dipan berkasur tipis, terbaring sakit seorang anak berusia sembilan tahun. Luther melihat mendung. “ Ibu tidak dapat berbuat apa-apa lagi sekarang. Kali ini kita kalah,” terdengar isakan tertahan. Luther menundukkan kepalanya. “ Musim dingin bulan depan…..” Ibu asuh yang telah dianggapnya seperti Ibu kandung itu menyeka matanya, “…..Pemerintah akan segera menutup panti ini.”
Si Ibu Asuh menangis. Mata Luther berkaca-kaca. Memang sudah dari beberapa bulan lalu dia mendengar bahwa panti tempat dia dibesarkan ini akan di tutup oleh pemerintah dengan alasan panti ini tidak memiliki izin resmi disamping tidak memiliki surat bangunan yang kuat. Dia tahu bahwa rumah yang kini dia tempati bersama dua puluh tujuh anak dan empat orang pengasuh ini dulunya hanya hibah dari seorang janda kaya. Rumah ini berlantai dua dengan halaman yang luas menghadap langsung ke menara Eifel di kejauhan. Mereka tidak tahu mengapa pemerintah begitu dengan mudahnya merampas hidup mereka. Mata Luther sembab. Ingin rasanya hari ini dia menemani adik-adiknya di panti. Berbagi cerita yang selama ini dia dongengkan kepada adik-adiknya menjelang tidur. Ingin rasanya dia memberikan seluruh jiwa dan raganya asalkan jangan sampai pemerintah menutup panti. Jika pemerintah benar-benar melakukan itu, kemana dia akan membawa adik-adiknya berteduh? Dadanya bergemuruh. Giginya bergemeretak. Air matanya meleleh. Rahangnya mengeras. Tinjunya mengepal. Dia tidak lagi menghiraukan tatapan heran dari pengguna jalan. Kesumat membakar dadanya. Ada dendam menggelorakan amarahnya.
Lama terpekur, Luther membereskan alat lukisnya. Hari ini dia tidak bersemangat. Tergesa dia memutar jalan dibelakangnya. Sepasang mata indah dari kios bunga menatapnya dari kejauhan. Luther ingin menyendiri. Detak jantungnya berpacu. Langkahnya menuntunnya ke taman di jalan Napoleon. Ditepi kolam berair tenang dia menghempaskan tubuhnya. Sambil tiduran dia memutar lagi kenanganya di panti. Ada ikatan batin yang dia rasakan dengan panti itu. Panti yang telah membesarkannya sejak masih bayi. Air matanya menetes lagi. Dia merasa kehilangan. Selama ini dia tidak pernah berharap bertemu dengan kedua orang tuanya. Yang dia harapkan sekarang adalah panti itu tidak di tutup pemerintah.
Matanya menatap gedung-gedung tinggi di kejauhan. Mungkin dalam waktu dekat ini panti yang sekarang mereka tempati akan berubah menjadi salah satu bagian dari gedung yang dia lihat kini. Dian harapan yang selama ini dinyalakannya semakin meredup. Mungkin tidak berapa lama lagi dian itu akan akan kehabisan minyak lantas mati.
***
Luther masih asyik melukis wajah seorang wisatawan Jepang sewaktu sebuah tangan dengan halus menyodorkan kotak dalam bungkusan plastik putih bertuliskan Kentucky. Seraut wajah khas Asia bagian selatan tersenyum kearahnya. “ Untuk makan siang,” kata gadis itu dengan bahasa Perancis yang masih kaku. Luther ingin sekali mengucapkan terima kasih. Namun lagi-lagi hanya senyuman yang ditawarkannya. Setelah gadis itu berlalu, Luther memaki dirinya sendiri. Mengapa dia dengan begitu bodohnya melewatkan kesempatan emas yang selama ini dia idam-idamkan? Ekor matanya masih tetap mengiringi gadis itu hingga masuk kios. Ingin dia teriakkan rasa terima kasih itu, tapi malu. Wisatawan Jepang yang dia lukis wajahnya tersenyum. Walaupun mereka tidak saling bercakap, tapi Luther yakin kalau wisatawan itu memberikan restu kepadanya untuk mengenal lebih jauh gadis tadi. Dia kembali melukis si wisatawan sambil tersenyum.
Hari ini terjual empat lukisan, sedangkan yang minta untuk dibuatkan sketsa wajah baru tiga orang. Satu mahasisiwi jurusan seni rupa, satu wisatawan Belanda, dan satu lagi wisatawan Jepang. Dia berniat istirahat dan makan makanan yang diberikan gadis tadi. Baru saja dia membuka plastik pembungkusnya, dia teringat adik-adiknya di panti. Sudah makan atau belum kalian? Apakah ada lauk untuk makan siang ini? Jangan-jangan cuma roti dicampur keju kering seperti kemarin. Ayam goreng renyah di tangannya tidak menarik lagi di matanya. Akh, ini bisa saya nikmati bersama-sama nanti di panti, gumamnya. Diletakkannya kotak nasi itu dalam tas, pikirnya dia tidak akan apa-apa jika puasa satu hari ini. Toh masih ada yang lebih penting dari sekedar makan.
Luther mengambil konte dan pisau. Dengan hati-hati dia meraut konte itu. Seperti tidak ingin konte itu patah ujungnya, Luther sesekali meraba ujungnya dengan telunjuk. Saat dia rasa sudah cukup runcing, diletakkannya kembali konte dan pisau itu ke tempatnya semula. Sekarang dia meraih buku Kahlil Gibran, salah seorang penulis buku kesukaannya. Dengan mengambil posisi bersandar di pohon, dia membuka lembar demi lembar buku itu. Membaca bait demi bait tulisannya. Memahami kata demi kata amanat didalamnya. Dunianya benderang. Dia hanyut dengan keindahan tulisan itu. Angin berkunjung. Beberapa daun pohon merah luruh. Jatuh lantas menyapa hidung pemuda kurus itu. Luther meraihnya. Ingin rasanya dia menuliskan sebuah puisi di daun itu kemudian memberikannya kepada gadis penjual bunga itu sebagai tanda rasa sukanya. Cuma suka? Bukan cinta?
Angannya mengelana. Dia ingat, dulu pernah dia menyukai teman sekelasnya. Tetapi dia tidak pernah berani mengungkapkan perasaan itu. Perasaan yang yang membuat dia bersemangat. Perasaan yang membuat dia mengisi hari-harinya dengan senyum. Dia pendam rasa itu. Dia tidak pernah mengungkapkannya. Dia malu. Kini cinta telah menyapa hatinya untuk kedua kalinya. Akankah cinta itu menemukan jalan buntu untuk rasa yang semakin menggila? Sebuah rasa yang hadir dari lorong sebuah hati dari seorang musafir cinta yatim piatu. Dia tidak tahu apakah cintanya akan menemukan tempat berlabuh dari hempasan topan ketidakberdayaan. Sebuah tempat damai dengan berjuta cahaya berkilau. Tempat yang hanya ada cinta kasih, jauh dari keserakahan. Penuh taburan bunga. Mewangi bak mawar kala pagi. Merekah seperti tulip di musim semi. Disanalah kelak dia akan membawa pujaan hatinya berlabuh bersama adik-adik dan Ibu Asuhnya di panti. Benar-benar jauh dari semua nestapa yang telah mendamparkan dia pada sakit hati. Matanya tiba-tiba mengembun.
Menatap horison wajahmu yang lugu
membekukan langkahku tuk pergi
sebab disana aku melihat gugus bintang
yang bersinar, saat kau berikan senyummu
ketika itu ...
Kau tahu, aku paling suka melihat senyum itu
sebab disana aku melihat ketulusan
yang memancar, saat kau tawarkan padaku
ketika itu ...
Segala rasa ini telah menjadi jalan bagi kita
untuk terus bersama, jauh dari segala
kesunyian, nestapa, duka
akhir dari segala penantian
biar langit tetap menyiratkan senyum
pada gugus bintang dan bulan
Semua asa telah berpadu menjadi tekad
menyimpul di ujung keagungan kasihmu
atau perasaan yang terus bertabuh dari dinding suka
jauh dari segala kesunyian, nestapa, duka
ketika itu ...
***
Lampu masih menyala di ruang tengah. Disana duduk Luther bersama empat pengasuhnya. Di wajah mereka ada mendung. Luther yang saat itu memakai kemeja kotak-kotak menatap sayu ke surat yang di pegang salah satu Ibu asuhnya. Hari ini surat perintah pengosongan rumah telah mereka terima. Artinya mereka hanya memiliki waktu sedikit lagi untuk berbenah. Itu tertera jelas di surat yang memberikan mereka waktu satu minggu sejak surat dikeluarkan.
“ Luther, sayang. Malam ini sengaja Ibu memanggilmu duduk bersama kami karena kami rasa kamu sudah waktunya tahu masalah ini.” Semua masih membisu. “ Mereka tidak memberikan kita banyak waktu. Kalian adalah anak kami dan kami menyayangi kalian.” Sampai disini tangis Ibu Margareth pecah. Disampingnya Ibu Stanfort coba menenangkan. “ Disini kami membesarkan kalian selayaknya anak kandung kami. Dulu Ibu berharap kita akan bersama selamanya hingga Ibu menutup usia. Tapi jika ini terjadi, Ibu tidak tahu harus berbuat apa.” Isak tangis bersahutan. Dari sudut mata Luther mengalir butiran air. Hatinya gundah. Malam semakin menggulita. Desau angin menggoyangkan pucuk cemara.
Luther bangkit, meraih jemari Ibu Margareth dan meletak-kannya didadanya. Matanya menganak sungai. Tuhan, berikan kami kekuatan. Jangan pisahkan aku dengan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya. Dia berdoa dengan sangat lirih. Menyapa Tuhan yang mungkin sedang menguji kekuatan imannya. Hidup adalah perjalanan, dalam perjalanan itu ada halangan dan rintangan yang harus ditaklukkan. Kemarin, hari ini, esok adalah sebuah takdir bagi seorang anak manusia. Manusia hanya menjalani apa yang menjadi takdirnya. Bahkan terkadang dalam berdoa pun manusia masih belum meyakini apakah Tuhan itu ada. Lalu dimanakah Dia kini? Mengapa menutup mata dan memalingkan wajah dari mereka ?
***
Dengan langkah gontai dan hati berdebar Luther memasuki kios bunga. Dia memantapkan detak jantungnya sebelum dia benar-benar masuk ke kios itu. Ditangannya ada gulungan kanvas yang di ikat dengan selembar pita merah muda. Sebuah senyuman menyambutnya hangat. Luther pun membalas senyuman itu. Ingin dia menatap senyuman itu untuk selamanya, tetapi hatinya berbisik tidak banyak waktu lagi. Setelah menyerahkan gulungan kanvas itu, Luther berbalik. Gadis itu menahannya. Tapi tidak ada kata yang terucap diantara mereka. Hanya butir air mata tiba-tiba jatuh dari mata Luther. Setelah satu senyuman terakhir dia berikan, Luther berbalik dan melangkah pergi. Hatinya remuk. Seakan ada beban berat menindih kepalanya, dia melangkah sambil menunduk. Angin dingin menggigit kulit. Sebelum memasuki gang Luther berhenti. Dia membalikkan badan dan memandang ke depan. Di kios itu dilihatnya gadis pujaannya masih berdiri. Mungkin saat ini gadis itu pun sedang terisak. Disana, tidak jauh dari kios, pohon daun merah menggugurkan daunnya. Angin membawa daun itu menyapa mobil, menyapa trotoar, menyapa telepon umum, menyapa gundah hatinya. Dia bergegas, di panti adik-adiknya menunggunya. Musim dingin segera tiba.
Sebab malam kau hadir di mimpiku
padahal kau tahu aku takut jika lena
lantas bertemu kau disana
jauh di tepi-tepi mimpi
Mimpi di bulan November
saat hujan merinai di halaman
menyapa pucuk akasia yang menggeliat
penuh duka, lantas menyapa
“ Ada apa denganmu?”
Luruh semua rasa jiwa
saat kulihat kau tertatih, menapak
lopak air tergenang
menuju kota seribu mimpi
Kau tak menolehku
yang berdiri mematung di sudut jendela besar
menatap kau lalu dari balik kaca
mengeja namamu disana
“Diandra”
***
Disarikan dari kisah nyata sebuah panti asuhan dibilangan Jakarta Selatan.
Monday, December 19, 2011 8:09:16 PM





Tidak ada komentar:
Posting Komentar