Dunia Batin



Baru kali ini saya tersadar bahwa yang berdiri tepat  dihadapan saya ini seorang penipu ulung. Dari gaya bicara dan bahasa tubuhnya mengatakan bahwa dia bukan orang susah. Akan tetapi tetap saja pakaian yang dia kenakan sangat lusuh dan compang-camping. Celana gombrongnya penuh tambalan. Bahkan topi caping itu sangat tidak layak lagi di pakai. Suaranya juga memelas dengan akting yang sangat alami. Saya yakin kalau saya tengah dibohongi, tetapi tetap saja saya mau merogoh kantong dan mengulurkan uang seribu rupiah. Mungkin setelah saya berlalu dihadapannya atau dia berlalu dari hadapan saya, dia akan menertawakan saya sebagai orang bodoh yang mudah dibohongi. Entah apa yang melatarbelakangi ‘keikhlasan’ saya memberikan dia uang, padahal jika mau dihitung uang seribu rupiah sudah cukup untuk membeli sekantung es atau bayaran masuk wc umum. Mungkin juga dengan memberi dia uang saya merasa telah terbebas dari sebuah ‘paksaan’ halus dari seorang pengemis. Atau karena saya tidak ingin berlama-lama bertatapan dengan si pengemis di jalan protokol yang macet ini. Bisa juga dengan memberi uang kepada si pengemis saya akan mendapat cap sebagai dermawan lantas mendapat doa agar rizki saya mengalir bak air.
            Setelah berlalu dari hadapan saya, si pengemis melakukan hal yang sama dengan pengendara lain. Wow, saya merasa kalah dengan akting yang ditawarkannya di siang yang panas ini. Saya ingat kalau nilai mata kuliah seni drama saya tak bisa lebih baik dari nilai C+. Sempurna, jika seandainya saya bawa dia ke kelas drama, mungkin tepuk tangan dari mahasiswa lain, bahkan dosen, akan dia dapatkan. Berbagai pujian akan mampir ke telinganya. Decak kagum disana sini. Suitan nakal membahana. Bisa jadi. Tetapi mata saya kini bukan lagi memerhatikan cara dia memberikan drama jalanan. Saya lebih memerhatikan tubuh si pengemis. Tegap. Berotot walaupun di kaki kanannya ada koreng yang membuat selera makan hilang bagi siapa yang melihatnya. Bagaimana tidak, dengan bentuk luka berdiameter cukup lebar itu, ada perban yang sudah berwarna entah merah entah coklat. Lalu tepi-tepinya terlihat lelehan berwarna merah kehitaman. Belum lagi lalat yang seolah berpesta mengikuti langkah kaki si pengemis. Kaki itu terlihat seperti batang kayu yang habis tertembak meriam api. Siapa yang tidak merasa kasihan melihat dia?
Dengan langkah terpincang-pincang si pengemis memamerkan lukanya sebagai protes terhadap nasib masyarakat urban. Satu persatu dihampirinya pengendara yang terjebak macet. Satu persatu juga dia menawarkan drama yang tadi ditawarkannya pada saya. Ada yang merasa kasihan lantas melakukan apa yang saya lakukan tadi. Ada juga yang cuek dan tidak menghiraukan si pengemis hingga si pengemis berlalu. Ada juga yang pura-pura tidak melihat, si pengendara asyik dengan urusannya seakan tidak ada siapa-siapa dihadapannya. Saya sendiri tidak tahu harus membenarkan sikap yang mana dari sekian banyak pengendara yang didatangi si pengemis. Saya tidak memuji pengendara yang memberikan si pengemis uang. Saya juga tidak memberikan cap pelit pada pengendara yang acuh. Sebenarnya saya tengah memberikan cap bodoh bagi diri saya sendiri. Cap bodoh karena saya sesungguhnya telah tertipu. Tetapi anehnya, seperti yang telah saya katakan, saya masih saja membiarkan diri saya tertipu.
Mengenai tipu-menipu ini saya memiliki cerita tersendiri. Dulu saya memunyai seorang teman yang tinggal dibilangan ..saya tidak akan menyebutkan nama daerah itu.. Daerah itu daerah pinggiran yang kumuh. Awal perkenalan saya dengan teman saya itu juga seperti hari ini. Cuma bedanya waktu itu saya sedang berada di terminal bus, menunggu bus yang datang dari daerah selatan kota ini. Ceritanya pagi itu saya mendapat telpon dari kakak bahwa barang pesanan saya telah dikirim melalui bus yang berangkat semalam. Jadi kira-kira sekitar pukul enam mobil masuk terminal. Jika di hitung mobil itu telah telat satu jam. Saya menunggu dengan sedikit tergesa sebab empat puluh lima atau enam puluh menit lagi saya harus masuk kuliah sedangkan bus yang saya tunggu belum juga masuk terminal.  Oya, selain kuliah saya berprofesi juga sebagai seorang sales produk kesehatan. Produk ini berasal dari industri rumahan yang memunyai kualitas setara produk sejenis di pasaran. Kakak saya sebagai salah satu agen distributor produk ini. Hitung-hitung untuk jajan, kost dan makan sehari-hari disamping sebagai penalang uang kuliah.
Saat asyik menunggu bus tiba, seseorang telah berdiri di hadapan saya seraya mengulurkan tangan memelas minta kasihan. Anda pasti tahu siapa dia. Anda juga tahu mesti apa yang harus anda lakukan. Tetapi saya tidak langsung memberikan dia uang. Saya ajak dia duduk di bangku sebelah yang kosong. Saya ajak dia mengobrol, hitung-hitung sebagai pengisi waktu saja. Awalnya dia agak keberatan, namun setelah saya belikan dia satu gelas teh manis yang sama seperti yang saya hirup, maka dia mau juga duduk dan mengobrol dengan saya. Setelah berbasa-basi sebentar saya mulai bertanya ke arah hal yang lebih khusus lagi.
Pertanyaan khusus saya yang pertama adalah nama. Mengenai nama dia agak sensitif. Tiga kali saya tanyakan nama tiga kali pula dia sebutkan nama berbeda. Aneh, tetapi saya cuma tersenyum. Dalam hati saya yakin kalau ketiga nama yang disebutkannya semuanya palsu. Saya akhirnya, dengan persetujuan dia, memanggilnya Bro. Yah, panggilan anak muda zaman sekarang. Dari situ mengalir berbagai lelucon yang membuat suasana mencair.
Pertanyaan saya kedua mengenai tempat tinggal. Si Bro menyebutkan nama tempat asalnya. Cukup jauh juga dari sini. Zaman sekarang jarak tidak menjadi soal yang penting uang, sama halnya dengan teman baru saya ini.  Mengenai zaman, saya sendiri heran. Banyak sekali orang yang merasa tidak mampu padahal secara fisik mampu. Teman saya ini contohnya. Secara fisik kuat, muda, dan tampang bisa di bilang lumayan. Tetapi mengapa dia mau saja mengemis di jalan dan terminal yang ramai ini? Apa urat malunya telah putus terlindas mobil yang lalu lalang? Tetapi bukan itu yang pertanyaan yang keluar dari bibir saya.
Pertanyaan saya yang ketiga, saya menanyakan alasan mengapa dia mengemis. Mulanya dia tidak mau bercerita dengan alasan yang menurut saya tidak perlu diutarakan karena saya tidak tahu kemana arah ceritanya. Setelah saya desak dan saya pancing dengan kata-kata halus, ingat saya adalah seorang sales yang dituntut harus bisa merayu, akhirnya mengalir juga cerita dari bibirnya mengenai alasan mengapa dia menjadi pengemis.
Mulanya dulu dia datang ke kota ini dari kampung halamannya di Sumatera sebagai seorang buruh bangunan. Lama juga pekerjaan itu dia jalani. Dari satu bangunan ke bangunan yang lain. Dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan. Hingga genap tiga tahun. Suatu hari si Bro tadi mendapat tawaran menjadi buruh untuk membangun kawasan pemukinan elit di kawasan ..lagi-lagi saya tidak bisa menyebutkan nama daerah itu.. dengan pengembang yang sangat terkenal di negeri ini. Si Bro sangat senang soalnya sudah satu minggu belum ada tawaran kerja padahal saat itu dia lagi membutuhkan uang buat Bapaknya yang lagi sakit di kampung. Saya cuma mengangguk-anggukkan kepala seperti burung pelatuk. Alasan klasik yang sering kali berhasil membuat orang simpati. Singkat cerita, si Bro tadi akhirnya bekerja juga sebagai buruh bangunan. Namun baru saja berjalan satu minggu, tepatnya delapan hari, dia diberhentikan oleh mandor dengan alasan yang kurang masuk di akal. Si Bro tadi heran sebab secara perhitungannya kawasan pemukiman elit ini akan selesai enam bulan ke depan. Jadi kalau dia bekerja selama satu bulan saja maka dia akan mengantongi uang dengan jumlah lumayan. Cukup untuk biaya hidup dan mengirim biaya berobat Bapaknya di kampung. Si Bro tadi protes, namun keputusan mandor sudah final. Si Bro ingin sekali menghajar mandor itu. Ingin dia meneriakkan protes ke tiang-tiang baja tingggi dihadapannya kalau dirinya selama ini bekerja dengan rajin. Pekerjaan yang di berikan kepadanya selesai dengan rapi. Tapi mengapa dia di pecat? Belakangan si Bro tadi mengetahui kalau mandor bangunan itu memecatnya karena baru kemarin menerima sejumlah uang dari calon buruh lainnya.
Akhirnya si Bro sadar bahwa pekerjaan itu bukan miliknya. Kalau mau berusaha Tuhan pasti menunjukkan jalan. Lepas dari buruh bangunan dia bekerja sebagai security di sebuah klub malam. Gaji bulanan yang ditawarkan tidak sebanyak kalau menjadi buruh bangunan. Walaupun gaji buruh bangunan di hitung harian, jika dijumlahkan maka perbulan dia akan menerima uang dalam jumlah lebih besar.  Dia menerima juga tawaran itu. Mengenai kesulitan dan kendala, dia tidak ambil pusing. “ Dulu di kampung aku sudah belajar silat. Jadi untuk apa takut dengan cerita orang tentang security klub malam yang pernah terbunuh sebelumnya,” pikirnya lugu. Karena keluguannya itu dia pun mendapat kesialan. Baru lima hari dia bekerja, dia sudah mendapat panggilan dari Manager klub malam itu. Di ruangan ber-AC dan wangi itu mereka duduk berhadap-hadapan.
“ Saudara tahu kenapa saya panggil kemari?” tanya si Manager. Si Bro tentu saja menjawab tidak, sebab setahunya dia tidak pernah berbuat kesalahan. “ Saudara benar-benar tidak tahu kesalahan saudara?” nada suara Manager sedikit tinggi. Dan si Bro pun menjawab dengan jawaban yang pertama. Setelah bertanya jawab hal yang sama, Manager klub malam menghubungi seseorang lewat telepon yang tergeletak di sisi kanan meja kaca itu. Tidak lama kemudian pintu di ketuk, masuklah seorang wanita muda berpakaian seksi diantar oleh seorang pramusaji. Si Bro kaget. Itu kan wanita yang sudah membuat rahang saya sakit malam kemarin? Mengapa dia ada disini? Si Bro bingung hingga Manager berkata lagi,
“ Saudara kenal dengan wanita ini?”
“ Ya,”
“ Dimana?”
“ Di depan klub.”
Si Bro pun menceritakan awal perkenalannya dengan wanita muda itu. Malam Jumat lalu, saat dia berjaga di pintu masuk klub malam, berhentilah sebuah taxi. Dari dalamnya turun wanita muda yang berdandan seksi dan menor itu. Si Bro tahu kalau wanita itu penyanyi di klub malam ini. Maka dia pun memberi hormat dengan menganggukkan kepala ketika wanita itu lewat. Tapi sesaat sebelum pintu klub itu dia buka, sebuah sedan merah metalik berhenti. Turunlah seorang lelaki muda dengan pakaian perlente. Mobil mewah yang dikendarainya di parkirkan oleh juru parkir. Wanita penyanyi yang sedianya masuk, langsung menyambut lelaki kaya itu dengan girangnya. Setelah cupika-cupiki mereka masuk. Tidak lama berselang dari itu terdengar kegaduhan. Beberapa orang keluar dari dalam. Termasuk lelaki muda dan si penyanyi. Kata-kata kotor berhamburan. Caci maki berpentalan. Tidak tahu darimana asal muasal keributan itu, tiba-tiba saja kepalan tangan lelaki perlente itu mampir di rahang kiri si Bro. Kaget dan bercampur bingung tidak memberikan si Bro waktu untuk mengelak. Telak sekali, si Bro terhuyung dan jatuh terduduk di lantai. Hampir saja dia menabrak pintu kaca klub malam itu. Orang-orang yang bergerombol di pintu diam saja. Tidak melakukan pembelaan. Saling pandang. Mungkin diantara mereka ada yang merasa kasihan namun karena tidak mau jadi sasaran gratis bogem mentah, maka mereka diam saja. Termasuk kawan si Bro yang berjaga malam itu.
Setelah bangkit, si Bro ingin membalas perlakuan lelaki yang tidak sopan itu, tapi keburu ditahan oleh orang-orang yang bergerombol tadi. Aneh, masak orang mau membalas tidak boleh? Apa salah saya? Pikir si Bro. Setelah meninju, lelaki tadi menghampiri si Bro.
“ Kalau lu ganggu pacar gue lagi..” jari telunjuknya disilangkan ke leher lalu menariknya mengelilingi lehernya.
Lagi-lagi si Bro bingung. Ada apa dengan dunia ini? Orang tidak bersalah dikatakan bersalah. Lagipula dia agak kesal dengan temannya mengapa tadi tidak memberikan pembelaan. Setelah lelaki dan wanita tadi naik ke mobil, si Bro protes kepada temannya, “ Kau memang tidak setia kawan. Kenapa kau nggak bantu aku tadi?”
“ Lu nggak tau siapa dia?” temannya balik bertanya.
“ Memangnya dia siapa?”
“ Bodoh! Itu tadi anaknya pemilik klub malam ini. Menejer kita itu pamannya! Gila kalau gua bantuin lu ninju dia.”
Si Bro melongo.
“ Eh, emangnya lu dari ngapain ceweknya sampe dia marah kayak gitu?” Temannya bertanya seraya mengulurkan tissue untuk mengelap darah dari bibirnya.
“ Aku nggak ngapa-ngapain ceweknya.”
“ Terus kenapa dia tadi marah ama lu, pake ngancam lagi?”
“ Aku juga nggak tau..”
***
Manager klub malam itu mengambil nafas dalam-dalam. Jemari tangannya mengetuk-ngetuk meja. Jelas dia sedang berpikir. Matanya tajam memandang si Bro.
“ Benar seperti itu kejadiannya, Mel? Tanya manager pada si penyanyi.
“ Benar, Pak.”
“ Terus kenapa Efan marah sama dia?”
“ Dia mengganggu saya, Pak.”
Mengganggu?”
“ Merayu,”
“ Bohong, Pak. Aku nggak pernah ngerayu dia.”
“ Diam. Aku belum selesai!”
“ Suka ngedipin mata kalau saya lewat di depannya.”
“ Aku juga nggak pernah …”
“ Diam..!” Mata Manager melotot. “Teruskan, Mel”
“ Suka mendengus..”
“ Lalu…?”
“ Suka memandang dengan penuh nafsu…”
Akhir dari semua itu adalah pemecatan secara tidak hormat. Si Bro tidak menyangka penyanyi itu akan memfitnahnya di depan Manager. Padahal bermimpi berdekatan dengan wanita itu saja dia tidak pernah apalagi mau menggoda dengan rayuan dan kedipan nakal. Dunia memang sudah terbalik. Dia ingat kalau dulu perempuan itulah yang suka mengerdip nakal kearahnya kalau berpapasan di pintu masuk. Atau pura-pura menjatuhkan sapu tangan tepat didepan si Bro lantas dia menunduk rendah memunguti sapu tangan itu hingga buah dadanya seakan mau meloncat keluar.
Si Bro kembali pasrah. Mungkin ini hanya cobaan. Bukankah kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda? Banyak orang sukses yang selama ini disiarkan di koran dan televisi dulunya adalah seorang yang melarat seperti dirinya. Hanya saja mungkin ada beberapa bagian hidup yang tidak sama persis yang dialaminya. Saya membenarkan tindakan yang diambil si Bro. Gigih. Bersemangat. Gelas teh separuhnya telah kosong. Dia melanjutkan lagi ceritanya. Tidak banyak yang dilakukannya setelah di pecat sebagai security di klub malam itu. Setiap hari, mulai dari pagi buta, dia berkeliling untuk mencari pekerjaan baru. Hingga suatu hari dia mendapat ide. Loper koran. Si Bro pun ingin mencoba pekerjaan barunya itu. Maka keesokan harinya, dia menemui salah seorang agen pengecer koran di sebuah stasiun kereta api. Dengan sedikit berbasa-basi dan merayu akhirnya si pengecer mau juga memberikan kesempatan kepadanya untuk menjualkan koran-korannya. Bukan main senang hatinya si Bro. Harapannya sedikit mulai tumbuh. Dia pernah membaca profil di sebuah majalah bahwa ada seseorang yang kaya raya di negeri ini yang dulunya hanya seorang loper koran. Maka dengan hati mantap dia mulai melangkahkan kakinya di stasiun itu. Satu persatu calon penumpang ditawarkannya koran pagi itu. Dari sekian banyak calon penumpang ternyata hanya beberapa saja yang membeli. Ternyata di negeri ini banyak sekali yang belum memiliki hobi membaca, gumamnya. Itu terlihat dari jumlah koran yang laku terjual di stasiun yang ramai ini. Atau bisa jadi mereka enggan membaca koran karena berita yang disajikan hanya seputar korupsi dan pembunuhan. Bisa juga mereka hanya memiliki sedikit uang hingga lebih memilih membeli barang lain yang lebih penting dibandingkan membeli koran.
Hari selanjutnya, dia berjualan di jalan protokol yang berada di seberang sebuah kampus terkenal karena banyak artis yang kuliah disana. Selain mahasiswa ada juga buruh pekerja, eksekutif muda, supir taxi, penjual bunga, toko-toko yang meramaikan jalan itu. Dengan suara lantang dia menjajakan korannya. Banyak mahasiswi yang mencuri-curi pandang dengannya. Itulah modalnya kini yang cukup mumpuni menggaet calon pembeli. Dengan suara khas Sumatera dan tampang machonya, dia mendekati mahasiswi-mahasiswi yang bergerombol di toko bunga. Dengan ramah dia menawarkan korannya. Dan cara itu berhasil. Korannya laris. Habis terjual. Si Bro tidak mau tahu alasan cewek-cewek itu membeli korannya. Otaknya tengah menghitung untung seandainya hari ini akan berulang ke hari selanjutnya. Karena habis dalam waktu yang relatif singkat, dia memunyai banyak waktu untuk berkenalan dengan cewek-cewek itu. Hari ini dia lengket dengan Indah. Keesokan harinya dia rapat dengan Shinta. Hari berikutnya dia jalan dengan Jennyfer. Seakan menemukan dunia yang baru, maka pekerjaannya sebagai loper koran ditinggalkannya. Dia kini memunyai pekerjaan lain yang tidak merepotkan dan tidak membuat capek namun menghasilkan uang yang cukup lumayan.
Setiap hari kerjaannya hanya menemani cewek-cewek tajir itu. Entah menemani berbelanja di mall. Membeli buku. Nonton film di bioskop. Makan malam bareng. Pelesiran ke Bali. Menyentuh dunia baru yang tidak pernah terjamah sebelumnya meski dengan khayalannya sekalipun. Dunia inilah yang aku cari, bisik Bro. Dunia orang kaya yang sekarang telah dia nikmati. Surga dunia. Kehidupan ini membiusnya. Dia menjadi primadona diantara cewek-cewek itu bahkan ada seorang artis ibu kota yang juga menjadi langganannya. Gaya bicaranya sudah menjadi gaya orang kota. Pakaiannya sama dengan pakaian lelaki yang meninjunya di klub malam dulu. Kendaraannya kini bukan lagi bus kota. Hingga tidur pun sudah disediakan sebuah apartemen mewah tempat dimana dia dahulu bekerja disana sebagai buruh bangunan. 
“ Kenapa sekarang seperti ini?” tanya saya kemudian.
Suatu hari dia menemukan dirinya jatuh ke sebuah jurang yang tidak berdasar. Gelap. Curam. Sunyi. Dia merasakan langit runtuh lantas menimpa tubuhnya. Hancur berkeping-keping. Suatu pagi dia ke rumah sakit tempat dimana pernah dirawatnya penguasa orde baru dulu. Disana dia memeriksakan diri apakah sakit atau tidak karena sudah satu minggu ini dia merasa kurang sehat. Cepat lelah. Tidak bersemangat. Keadaan seperti ini akan merugikan jika tidak ditanggulangi sesegera mungkin. Tadinya dia berpikir cuma kurang darah. Maklum, dia kadang tidur larut malam. Belum lagi harus kesana-kemari menemani pelanggannya. Oleh dokter dia disarankan untuk memeriksakan darah terlebih dahulu, baru setelah itu akan ada penanganan selanjutnya. Tapi alangkah terkejutnya dia setelah keluar dari laboratorium mengambil hasil tes darah. Positif terinfeksi HIV. Tungkainya lemas. Badannya lunglai. Keringat dingin membasahi kemejanya. Dunia menggulita.
“ Setelah itu apa yang kamu lakukan?”
“ Mengemis”
“ Kan ada kerjaan lain yang lebih terhormat…”
“ Ngemis itu kerjaan yang sangat alami, Mas. Tanpa resiko.”
Saya terdiam. Sungguh cerita yang membuat saya sendiri dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang sukar dicari jawabannya. Si Bro melanjutkan lagi ceritanya. Untuk dapat meraih simpati orang kadang dia berbohong dengan mengatakan belum makan. Atau dengan membuat luka palsu di kaki lantas berjalan terpincang-pincang. Atau pura-pura sakit batuk dan dengan cerdiknya mengoleskan sejenis obat hingga bibirnya mengering alami. Atau dengan pura-pura pincang dengan cara mengikat salah satu kakinya di pinggul. Tapi itu membutuhkan latihan karena cukup susah berjalan dengan satu kaki meskipun menggunakan tongkat. Saya terdiam. Gelas teh telah kosong. Terminal makin ramai. Seramai pertanyaan saya yang berkelebatan di otak. Anehnya saya sama sekali tidak percaya dengan cerita si Bro. Menurut batin saya, dia telah menipu saya dengan cerita yang sengaja dia buat untuk menggiring saya ke sebuah labirin empati. Sekarang pengemis yang kini tengah saya lihat di jalur macet jalan ini pun saya rasa seorang penipu. Tengok saja, ketika jalur kembali normal, dia cepat-cepat menyeberang dengan langkah tanpa terpincang sedikit pun. Saya tersenyum, dunia ini ternyata penuh dengan penipu.
***


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

{{ date }}
{{ time }}
BIRU ANGIN

Postingan Populer

My Profil

Foto saya
Hidupmu takkan berubah jika kau hanya berpangku tangan

Recent Posts