Kita Perlu Musuh

Siapapun tidak ingin punya musuh. Lebih asyik punya teman segudang. Tapi, bukan berarti musuh tidak berguna. Kita juga perlu musuh, lho.
“Bro, gue mau curhat nih. Gue tuh dimusuhi teman se-gank. Enggak pernah di tegur lagi. Mereka suka ngegosipin yang enggak-enggak. Katanya egoislah, tukang aturlah. Pernah gue nyamperin mereka di kantin. Mereka yang tadinya rame jadi diem. Bete banget deh, pokoknya! Sebel! Padahal dulu kita tu temenan deket banget. Sampai ortu masing-masing pun kenal baik.” Bro ini adalah salah satu contoh hubungan permusuhan. Berbeda dengan temenan, permusuhan justru bikin kita senewen dan kelimpungan. Kita jadi cenderung memasang pertahanan diri yang kuat sehingga membuat permusuhan kita makin meruncing.
Seharusnya musuh cuma kita dianggap sebagai lawan. Sama seperti tim basket atau sepak bola klub lain yang jadi lawan kita saat memperebutkan piala kejuaraan. Tipe musuh seperti ini mestinya dibatasi oleh waktu dan aturan tertentu. Habis bertanding, maka permusuhan sudah selesai. Memang ada rasa kecewa, tapi kita rela berjabat tangan.
Ada pula tipe musuh yang menimbulkan konflik seperti dialami kebanyakan orang. Enggak ada batas waktu yang pasti untuk mengakhiri permusuhan itu bahkan bisa berlarut-larut. Maka apabila kita memiliki tipe musuh seperti ini, ingatan kita langsung tertuju pada pertengkaran, sikap yang ketus, serta ngomong yang ngejelek-jelekin. Kalau ketemu musuh, kita langsung pasang kuda-kuda sekaligus jaim. Tak heran jika hal ini akan membawa efek negatif bagi yang mengalaminya.
Sebenarnya banyak hal positif saat diambil apabila kita berada pada posisi berlawanan dengan musuh. Karena musuh itu menyimpan potensi-potensi bermanfaat buat kita, antara lain dijelaskan sebagai berikut.
Jadi Motivator
Kita bisa memanfaatkannya sebagai motivator untuk jadi lebih baik. Saat manyadari punya musuh, kita akan memperkuat diri. Kita ingin punya nilai lebih dibanding musuh kita. Enggak mau dianggap cemen. Percayalah, makin kita menganggap hebat musuh kita, makin kuatlah diri kita untuk menjadi lebih darinya. Oke juga, ya?
Penunjuk Kelemahan
Musuh pasti-sangat-bersemangat mencari seluruh kelemahan dan kekurangan kita tanpa tedeng aling-aling. Enak saja musuh kita berkata, “Kamu memang pengecut! Berani ngomong di belakang. Kalau berani, ngomong, dong disini, coba!” Bro, diam-diam kita jadi sadar kalau sebenarnya kita cuma berani ngomong di belakang saja. Makanya kita perlu berterima kasih kepadanya, bukan malah dimusuhin!
Uji Mental
Teman cenderung membuat kita nyaman dan tak ada tantangan. Lain dengan poosisi musuh yang membuat kesiapan mental kita lebih tinggi. Lewat musuh, kita bisa menguji kemampuan mengendalikan emosi. Kita juga belajar untuk tetap bersikap tepat dalam situasi sulit, serta bagaimana mengelola diri supaya tidak terjebak dalam bad mood.
Mengasah Logika
Bersama teman yang seiring-sejalan, kita akan lebih subjektif menilai diri sendiri. Tapi dengan adanya musuh, minimal kita ‘dipaksa’ untuk menilai diri sendiri dari dua sudut pandang dan kepentingan yang berbeda pula. Kita juga perlu mengasah otak, mencari argumen yang tepat untuk diplomasi, apabila lebih mengandalkan kekuatan otak, serta mencari jalan keluar terbaik. Ingat, kekerasan memang kadang dibutuhkan, tetapi terkadang tidak dapat menyelesaikan masalah.
Weww, banyak ‘kan keuntungan kita punya musuh? Makanya rugi banget jika kita hanya memikirkan segi negatifnya saja saat kita punya musuh. Iya nggak?
Jurus Andalan Menghadapi Musuh
Supaya mendapatkan manfaat dari musuh, kita perlu jeli dan memiliki strategi yang tepat. Ini jurus-jurus andalannya. Bila dalam posisi tanding, kita bisa melihat pola-pola serangan musuh. Bila terdesak, kita jadi sadar kalau kita masih punya titik lemah. Dengan begitu kita bisa mengurangi titik lemah tersebut. Bila nanti terjadi konflik, usahakan untuk mengendalikan diri. Jangan sampai pikiran kita buntu oleh emosi. Dengan begitu kita dapat mengukur perkembangan daya tahan mental kita.
Namun semua itu tergantung pada kalian semua. Jangan sampai di dunia ini anda sedikit memiliki teman, tapi justru memiliki musuh banyak. So, pepatah ‘dimana bumi di pijak, disitu langit di junjung’ harus jadi motto bagi hidup kita. (za)
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

{{ date }}
{{ time }}
BIRU ANGIN

Postingan Populer

My Profil

Foto saya
Hidupmu takkan berubah jika kau hanya berpangku tangan

Recent Posts