Sesaat setelah ombak menari, ia sandarkan punggungnya di sisi kiri kapal. Mata elangnya memandang jauh ke seberang. Ke sebuah pulau yang konon ia dengar dari Bapak, tempat uang berserakan. Hatinya gundah. Berdegup bagai buih yang menjilati bibir pantai. Ombak kembali mengajak anak itu menari, tetapi tetap tidak ia hiraukan, padahal dulu ombak adalah sahabat tempat ia biasa bercerita tentang apa saja. Ujung langit membawa ia kembali menceritakan dukanya kepada camar. Betapa pedihnya hidup tanpa seorang Bapak. Perih menusuk, hadirkan keluhan perlahan di bibir kecoklatan itu. Beberapa kepiting pantai menyambut keluhan itu dengan kaki-kaki kecil mereka. Lagi-lagi anak dua belas tahun itu tidak mengindahkannya. Dulu dia ingat, bahwa pantai ini pernah berjanji akan membawa kembali sebagian hidupnya yang hilang terbawa kapal nelayan. Dulu pantai ini berjanji tidak akan lama lagi bagian hidupnya itu akan kembali. Tetapi kini? Tiga tahun ia lalui dengan ketidakpastian. Malam cepat berganti siang. Siang cepat berganti senja. Namun secercah cahaya harapan belum juga menerangi sisi gelap hidupnya.
Anak itu bangkit. Membentangkan kedua tangannya, membiarkan angin laut mengusap lembut tubuhnya seperti usapan yang selalu ia dapatkan dari Bapak sewaktu akan tidur. Tiba-tiba rindu itu memaksa matanya mengembun. Entah sudah berapa tetes air yang jatuh. Entah sudah berapa bait doa yang ia lantunkan. Entah sudah berapa kali pukulan rotan Mak menghantam punggungnya. Ia tidak tahu lagi. Yang ia tahu hanyalah Bapak tidak akan pernah kembali.
***
Anak itu bernama Alim. Bapaknya seorang nelayan seperti kebanyakan Bapak teman-temannya. Yang membedakannya hanyalah Bapak adalah seorang nelayan yang berani secara ilegal melintas batas wilayah negara lain untuk mencari ikan. Tidak terhitung lagi berapa kali ia dan temannya berkejar-kejaran dengan polisi yang patroli di perbatasan. Pernah juga ia dan teman-temannya sampai di negara tetangga dan tinggal untuk beberapa waktu di kampung nelayan sebagai pendatang gelap. Hebatnya, Bapak tidak pernah sekalipun tertangkap. Dan setelah berlayar berminggu-minggu Bapak akan pulang lalu menceritakan kepada Alim pengalamannya itu. Bercerita betapa hebatnya ia mengarungi lautan dalam keadaan terang dan badai. Bercerita tentang negeri orang yang penuh dihiasi lampu benderang kala malam. Tentang mobil dan kereta yang berlalu lalang. Tentang bioskop dan klub malam. Tentang mimpi-mimpi. Alim merasa itu hebat. Kelak ia ingin seperti Bapak. Seorang lelaki yang gagah berani mengarungi lautan. Lautan yang akan membentuknya menjadi lelaki sejati. Seperti bapak. Mimpi itulah yang membawa tekadnya untuk belajar berenang. Mimpi juga yang menjadi semangatnya untuk belajar mengayuh sampan. Semua yang ia dengar dari Bapak akan ia rasakan sendiri kelak. Walaupun teman-temannya mengatakan, ” Kamu nggak akan sampai ke seberang. Kamu ‘kan tidak seperti bapakmu,” dia tidak peduli. Ia hanya tersenyum dan berkata, “ Saya akan mengarungi lautan seperti bapakku.”
Saat teman-temannya bermain bola di pantai, ia lebih senang berenang. Saat teman-temannya asyik bermain perang-perangan, ia lebih asyik berperahu sampan. Saat matahari sudah lelah menerangi jagat, ia dengan begitu semangat mengayuh dayung. Di dadanya telah tertanam tekad, kelak akan ia tunjukkan kepada semua orang bahwa ia bisa seperti Bapak. Menjadi lelaki yang akrab dengan ombak dan badai. Ikan dan udang. Bulan dan gemintang. Akrab dengan mimpi-mimpi. Mimpi yang menuntunnya untuk berkhayal tentang Bapak.
Dalam khayal Alim menjumpai Bapak. Bapak yang telah selesai memperbaiki perahu kemudian mengajak Alim berlayar. Perahu dayung itu begitu indah. Kedua sisi kapal itu bercat biru dengan gambar ikan marlin. Di sisi depan kapal, dekat tiang layar, Bapak nenuliskan kata “ HARAPAN ALIM” dengan cat hitam. Kata Bapak harapan itu adalah hal yang diinginkan hati. Sedangkan hati adalah jiwa seluruh tubuh. Jadi menurut Bapak “HARAPAN ALIM” artinya susuatu yang diharapkan Alim dalam jiwanya. Alim senang sekali. Apalagi ia sangat suka dengan ikan marlin, ikan yang selama Bapak pergi tidak pernah lagi ia cicipi. Ia berkali-kali memuji Bapak. Kapal ini menurut Alim kapal yang lebih indah dibandingkan dengan kapal pesiar mewah yang pernah menepi di dermaga. Alim sangat bergembira. Mereka berlayar berdua saja tanpa Mak. Alim tidak senang dengn Mak yang kerap memukulinya. Mak tidak boleh ikut berlayar. Mak di rumah saja. Ketika layar terkembang angin dengan lembut membawa perahu itu mengarungi lautan dengan tenang. Bapak mengatakan kelak jika Alim sudah besar ia akan mewarisi perahu ini. Kelak perahu ini juga yang akan membawa mereka berdua ke negeri seberang, negeri yang selalu diceritakan Bapak. Disana mereka akan hidup dan membentuk keluarga baru, juga tanpa Mak. Bahkan ia akan membujuk Bapak untuk mencari Mak baru yang lebih sayang kepadanya. Di negeri baru itu ia akan mencari uang yang banyak. Cerita Bapak, di negeri baru itu uang sangat mudah di cari. Setiap sesuatu yang diikhtiarkan menjadi untung. Alim berpikir, alangkah enaknya nanti jika ia telah dewasa dan memiliki perahu sendiri. Ia akan menangkap ikan yang banyak kemudian menjualnya dengan harga mahal. Tidak seperti di desanya. Ikan seakan tidak memiliki harga. Terkadang pada masa panen ikan, harga ikan asin justru lebih mahal ketimbang ikan segar. Dengan uang yang didapatnya akan ia tunjukkan kepada teman-temannya bahwa Alim yang sekarang adalah Alim pincang tapi pintar mencari uang. Ia akan buktikan kepada mereka bahwa cerita Bapak benar. Bapak bukan seorang pembohong.
***
Hari ini Alim berkhayal menjumpai Bapak yang tengah membetulkan jala. Ia melihat tangan Bapak begitu terampil menganyam sepetak demi sepetak jala yang terbuat dari tali pancing berwarna bening. Ketika melihat Alim datang, Bapak menghentikan pekerjaannya. Bapak dengan lembut akan memangkunya dan bercerita tentang kehebatan Bapak menangkap ikan hiu. Alim takut dengan ikan hiu. Menurut Alim, hiu jahat karena suka memangsa ikan kecil yang tidak berdaya. Alim menyamakan ikan hiu dengan Mak. Mak sering memukulinya jika Alim melakukan kesalahan sekecil apapun. Pernah suatu kali Alim tidak diberi makan seharian gara-gara Alim pulang sekolah dengan baju kuyup karena kehujanan. Dalam dingin ia hanya bisa berdoa agar siang secepatnya menjadi malam dan malam secepatnya menjadi siang hingga Mak akan memberinya sepiring nasi tanpa lauk untuk di makan. Bapak hanya tersenyum mendengar cerita Alim, lantas memberinya sebungkus permen agar Alim tidak marah lagi dengan Mak.
“ Mak sangat menyayangi Alim, karenanya Mak selalu ingin agar Alim mendengar kata-katanya.”
“ Tapi Mak selalu marah tiap hari. Alim takut. Bapak sayang ‘kan sama Alim?”
“ Iya, Bapak sayang sama Alim. Mak juga.”
“ Tapi Bapak enggak pernah marah.”
Setelah itu Bapak akan mengajaknya berjalan-jalan di sekitar pantai. Mereka kejar-kejaran. Memburu kepiting. Mandi laut. Bapak mengajarkan bagaimana caranya berenang yang baik. Bapak akan menyuruh Alim mengayunkan kedua kakinya dan menggerakkan tangannya seperti layaknya burung yang sedang terbang, sementara Bapak akan menahan tubuhnya dengan kedua tangan Bapak. “ Kalau Alim ingin berenang dengan cepat, Alim harus bisa menahan napas sedikit lebih lama saat kepala di dalam air kemudian menghirup serta menghembuskannya dengan cepat saat kepala berada di udara,” kata Bapak. Setelah puas belajar berenang mereka mencari kerang. Buat istana pasir. Dan satu hal yang Alim idamkan saat ini, belajar mengayuh perahu dayung. Bapak dengan cermat mengajarkan bagaimana caranya agar perahu berayun di atas gelombang dengan tenang. Mengajarkan Alim cara membelokkan perahu, serta cara memasang layar yang benar. Alim tertawa-tawa ketika Bapak pura-pura ketakutan saat tangan Alim coba menggoyangkan perahu. Alim benar-benar tertawa. Ia tidak sadar ada tiga pasang mata melihat dari kejauhan. Seseorang menyeletuk.
“ Lihat, Alim udah sinting tuh!”
“ Iya, kok ketawa sendirian. Kita bilangin ke Maknya yuk..” usul yang lain.
“ Enggak, ah. Takut. Maknya galak.”
“ Terus gimana dong?”
“ Udah biarin aja. Kali dia gila karena bapaknya enggak pulang-pulang.”
“ Kasihan Alim. Dia ‘kan temen kita...”
***
Siang itu sepulang sekolah, ia mendapati Mak tengah berduaan di dalam kamar dengan lelaki tetangganya. Kali ini ia melihat Mak tersenyum. Manis sekali. Tapi sayang senyum manis itu bukan untuknya. Alim tidak senang dengan lelaki itu dan berharap Mak mengusirnya segera. Alim pikir satu-satunya lelaki yang pantas mendekati Mak hanyalah Bapak. Tetapi kali ini ia tidak mendapati Bapak di kamar Mak. Ia tak tahu kenapa Mak malah menampar dan mencacinya. Lantas dengan kasar menyeret Alim keluar serta mengusir Alim agar segera menjauh dari rumah. Mata Mak melotot seakan biji mata itu mau keluar dari kelopaknya.
“ Pergi kamu. Pergi! Dasar kurang ajar!”
Mata Alim memanas. Dengan linangan air mata ia ke pantai untuk segera mengadu ke Bapak. Dilihatnya Bapak sedang duduk dibawah pohon waru. Tergesa ia memanggil Bapak lantas menubruknya. Bapak mengusap lelehan air mata di pipi lelaki kecil itu. Dengan lembut membelai rambutnya agar Alim kembali tenang. Alim meletakkan kepalanya dipangkuan Bapak. Maka mengalirlah cerita-cerita Bapak yang membuat ia tersenyum kembali.
“ Alim sayang, nanti Bapak akan menasehati Mak agar Mak tidak lagi memarahi Alim.” Alim tersenyum gembira. Kali ini Bapak bercerita tentang teman Bapak yang penakut. Pernah suatu ksli sewaktu kapal mereka memasuki perairan negara tetangga, mereka dihadang oleh kapal polisi yang berpatroli di perbatasan. Salah seorang teman Bapak yang penakut sampai terkencing-kencing demi melihat kedatangan kapal patroli itu. Padahal kapal itu masih jauh, hanya suara sirene dan lampu tembak saja yang terlihat. Dengan cepat Bapak akan membelokkan perahu itu ke arah sebaliknya. Dengan kecepatan penuh pula perahu mereka melarikan diri. Alim tertawa terbahak-bahak.
“ Benar, Pak?” tanya Alim tidak percaya. Bapak menjawab dengan senyum. Kembali mengusap lembut rambut anaknya hingga anak itu tertidur.
Entah berapa lama ia tertidur, ketika bangun ia tidak mendapati lagi bapaknya. Ia kini tengah tertelungkup memeluk pasir di bawah pohon waru. Cepat ia menyeka mata lantas berlari ke rumah. Di serambi depan ia melihat Mak tengah berbicara dengan tukang kredit. Dengan sedikit kecut Alim mendekati Mak. Mak mendelik, seperti biasa matanya yang dahulu sejuk seperti mata malaikat, melotot. Alim takut, tapi ia ingat kata-kata bapaknya tadi.
“ Bapak tadi bilang kalau Mak enggak boleh lagi marah sama Alim. Kalau masih marah, Bapak akan marah juga sama Mak,” kata Alim tegas. Tukang kredit mendelik, menatap Mak seolah tidak percaya.
“ Ibu punya suami baru?”
***
Alim merasakan seluruh tubuhnya ngilu. Lebam di bahu kanannya semakin membuat ia payah. Kerongkongannya pahit dan kering. Ingin ia berteriak memanggil maknya, tapi ia urungkan demi mengingat kemarin sore lebam itu ia dapat dari sabetan sapu Mak. Air matanya meleleh, tapi ia tidak menangis. Ia takut Mak akan bertambah marah. Kerongkongannya terasa semakin mengering, haus yang sangat seolah-olah ia akan meminum seluruh air yang ada di hadapannya. Alim teringat Bapak. Ia memanggil-manggil Bapak dengan suara yang hampir tidak terdengar. Maka ia melihat Bapak menyingkap tirai pintu dan dengan tergopoh-gopoh menghampirinya. Bapak dengan perlahan memangku Alim. Dikecupnya kening anak itu. Hati-hati Bapak meminumkan segelas air ke mulut Alim. Badan Alim semakin memanas. Ia menggigil. Bapak dengan lembut mendekap Alim. Bapak menangis. Alim juga menangis. Setelah badan Alim tidak lagi menggigil, Bapak mengusap keringat yang membanjiri wajah dan tubuh Alim.
“ Alim mau ikut dengan Bapak?” Alim mengangguk. Bibirnya gemetar, tidak ada kata yang terucap. Tangannya erat mendekap tubuh Bapak. “ Bapak kangen betul sama Alim. Mulai sekarang Bapak enggak akan ninggalin Alim lagi. Nanti kita berdua akan tinggal serumah lagi. Tanpa Mak. Oya, Bapak sekarang sudah punya rumah bagus. Alim pasti senang tinggal disana.”
Alim tersenyum. Di matanya tergambar jelas betapa nanti ia akan selalu bersama Bapak yang menyayanginya. Bapak yang tidak pernah marah apalagi memukulinya. Kelak akan ia buktikan betapa Alim pun sangat menyayangi Mak walaupun ia tahu Mak tidak pernah mengharapkan kehadirannya. Alim sekali lagi tersenyum. Bapak menggendong Alim, mereka keluar dari rumah. Alim merasakan tubuhnya ringan, sakitnya menghilang. Tubuhnya seketika menjadi sehat.
“ Alim sayang sama Bapak juga Mak,” katanya. Bapak mengangguk, dan Alim pun tersenyum untuk terakhir kalinya.
***
Krui, 19 mei 2010 11:9:25 PM





Tidak ada komentar:
Posting Komentar