Sajak Daun




Abang membeli mimpi. Mimpi untuk menaikkan Mak ke Mekah. Mimpi itu juga yang telah menuntun Abang dan kawannya untuk tidak membaca lembar demi lembar dedaunan yang luruh dari rantingnya. Tidak menghiraukan pekikan sakit dahan koyak sebab mesin-mesin mereka berteriak dengan kerasnya. Abang tidak lagi melihat ranting-ranting menggeliat lalu patah. Tidak mendengar dahan berteriak-teriak lalu rebah. Alam menyerukan kepada mereka sebuah protes tetapi tetap mereka tidak mau mendengarkan. Burung terjaga dengan hati kecut. Tupai menjauh. Bayi-bayi kumbang menangis. Satu tangisan agar mereka tetap ada disini. Tapi Abangku tetap saja mengayunkan gergaji mesinnya tidak menghiraukan peringatan itu. Abang memang berwatak keras. Setiap kali Mak nasehatkan agar mencari pekerjaan lain, setiap kali itu pula dia berdalih dengan dalih yang menurutku sangat masuk di akal. Abang memang tidak dapat di atur, tetapi dia sangat penyayang. Seingatku, Abang tidak pernah sekalipun memukuliku atau memukul adik-adiknya yang lain. Abang juga sangat bertanggung jawab dengan keluarga. Namun begitu, aku sangat menyayangkan tindakan yang di ambil Abang dan teman-temannya. Sangat cerobah, sangkanya apa yang mereka lakukan itu tidak akan berdampak apapun. Abang salah. Aku ingin memperingatkan abang, tapi hatiku kecut. Apakah Abang akan mendengarkan nasehatku. Abang, lelaki dua puluh tujuh tahun itu, begitu tegar. Tidak pernah seingatku Abang mengeluh telah mengorbankan hidupnya demi kami. Bahkan disaat temannya yang lain telah menikah, Abang tetap saja membujang demi kami. Itu sangat mengusik Mak. Dan apabila Mak menyindir tentang pernikahan, Abang pasti akan berkata , “ Aku mau menaikkan Mak ke Mekah dulu. Baru setelah itu aku menikah.” Apabila perkataan itu telah meluncur dari bibirnya, maka Mak akan diam.
            Pernah suatu kali aku menyatakan niatku pada Abang untuk bekerja. Tapi Abang dengan mentah-mentah menolaknya. Kata abang, “ Kamu jangan dulu memikirkan itu. SMA juga belum tamat. Nanti saja kalau mau ikut Abang. Bantu sajalah mak di rumah,”  tanpa ekspresi di wajahnya. Abang terlihat begitu tua dari usianya. Abang yang mempunyai baret bekas luka di tangan dan kakinya. Abang yang selalu merokok murahan. Abang yang suka minum kopi pahit. Abang yang hingga kini masih membujang. Aku tidak dapat lagi menahan hatiku untuk membantu Abang. Maka dengan berat hati Abang mengizinkan aku membantunya jika hari libur. Seperti hari ini. Hari yang aku nantikan untuk menunjukkan kepada Abang bahwa aku telah dewasa.
            Abang, si buruh gergaji, memang berwatak keras. Tetapi dia tidak pernah memukuliku atau memukul adik-adiknya yang lain. Rasa kasih sayangnya sangat besar kepada kami. Padahal dulu, sewaktu Abah masih hidup, Abang suka membangkang. Setiap hari pulang larut malam. Entah dalam keadaan segar ataupun mabuk. Abang gemar memasang togel, menurutnya dengan togel seseorang dapat memperoleh keuntungan besar tanpa harus bersusah-payah. Abang juga sangat membenci Abah. Kata Abang, Abah sangat keterlaluan. Ketinggalan zaman. Kuno. Dengan pikiran-pikiran zaman dulu yang kini masih dipertahankannya. Abang pernah lari dari rumah sewaktu Abah memukuli Abang karena ketahuan mencuri dua puluh lima ribu rupiah dari kantong celana Abah. Entah apa yang ada dipikiran Abang saat itu, hingga dia keluar dari rumah dengan isakan tangis Mak. Abang tetaplah Abang. Berwatak keras namun tidak pernah memukuliku ataupun memukul adiknya yang lain, dia begitu penyayang setelah Abah dimakamkan petang itu.
            Dulu aku sangat membenci Abang. Setiap kali Abang pulang larut malam, bahkan dini hari, selalu ada saja hal-hal yang membuat rumah gaduh. Entah dengan menggebrak meja makan karena tudung saji kosong. Membanting kursi karena gula tidak cukup lagi buat memaniskan secangkir kopi. Dan hal-hal lain yang seolah-olah sengaja di buat Abang untuk memancing emosi Abah. Hampir setiap hari rumah sesak oleh pertengkaran. Aku sangat merasakan bahwa watak Abang tidak akan pernah berubah. Watak yang membuat aku selalu berdoa agar Abang dijauhkan selamanya dari keluarga ini. Aku benar-benar membenci Abang walaupun dia tidak pernah memukuliku dan memukul adiknya yang lain.
Lembar demi lembar dedaunan meluruh dari rantingnya. Tidak mereka hiraukan pekikan sakit itu sebab mesin-mesin mereka berteriak dengan kerasnya. Ranting-ranting menggeliat lalu patah. Dahan berteriak-teriak lalu rebah. Alam menyerukan kepada mereka sebuah protes tetapi tetap mereka tidak mau mendengarkan. Burung terjaga dengan hati kecut. Tupai menjauh. Bayi-bayi kumbang menangis. Satu tangisan agar mereka tetap ada disini. Pohon-pohon besar tumbang. Berdebam memecah keheningan hutan yang koyak oleh suara mesin-mesin. Alam menyiratkan ketidaksukaannya pada kami, para perambah hutan yang harus hidup dengan mencuri kayu disini. Aku pernah berpikir, apakah kami salah melakukan hal ini? Kalau benar kami salah, apa yang harus kami makan jika kami tidak melakukannya? Tanah di daerah ini tidak sesubur tanahmu. Yang tidak selalu menumbuhkan pucuk hijau meskipun kau secara tidak sengaja membuang biji pepaya di tanah. Tanah yang tidak selalu memberi kami arti sebagai petani. Tanah yang selalu memberi kami mimpi betapa hidup kami selalu dibayangi tekanan tengkulak dan rentenir.
Karena itulah kami disini. Sebagai perambah hutan. Aku mendesah, merasakan sesak di dada saat pohon besar terakhir yang kami tebang hari ini tumbang. Batang laksana raksasa itu menyentuh bumi. Melagukan suatu nyanyian kematian yang tragis. Abang hanya tersenyum sembari menyeka peluh. Gergaji dimatikan. Meletakkannya disamping kanannya lantas duduk. Satu-dua tegukan menyiram kerongkongannya. Peluh berkejaran dengan nafasnya. Matahari sore menerobos untuk terakhir kalinya sebelum ia pulang ke peraduan. Aku masih memegang cangkir plastik saat Abang berseru dengan kawan-kawannya.
Woy... Negham taghu pai. Jemoh lagi dilanjut ko.” [1] Kawan-kawan Abang yang berjumlah enam orang itu sejenak menghentikan pekerjaan mereka. Lalu berjalan perlahan ke arah kami setelah mematikan mesin. Kelakar berhamburan. Lelucon khas lelaki yang akrab dengan pohon dan gergaji. Lelaki yang akrab dengan hewan dan polisi hutan. Lelaki yang akrab dengan kesepian. Lelaki-lelaki ini begitu menikmati waktu istirahat mereka. Jika malam tiba, sebagian dari mereka ada yang asyik memandang bulan. Ada juga yang asyik bercerita tentang kehidupan. Ada juga yang mencari kesenangan dengan cara mereka sendiri. Cara yang menurutku sangat identik dengan orang hutan. Matahari telah terbenam sempurna. Tak ada lagi cahaya yang mendedahkan gelap malam, kecuali perapian yang dibuat kawan Abang. Api itu menjilat udara. Mengusir dingin dalam dekapan kepekatan hutan. Suara jangkrik bernostalgia dalam gelap. Burung hantu bernyanyi. Dedaunan menari. Tak ada kesunyian yang sesungguhnya selain kesunyian yang dirasakan lelaki-lelaki ini.
Jah mengan pai. Ajo adu disiap ko Ahman.”[2] Kata Bang Sanip, lelaki yang dituakan dalam kelompok perambah ini.
Yu, Bang. Nangon adu betoh nihan.”[3] Sahut lelaki yang lain. Walaupun hanya nasi berlauk ikan asin bakar dan sambal, namun makan ini terasa nikmat. Aku pelan saja memasukkan nasi itu ke mulutku. Setiap aku menyuapkan nasi itu, setiap kali itu pula aku ingat akan keringat Abang selama ini. Keringat yang telah membesarkan badanku. Keringat yang telah menghantarku hingga bangku sekolah. Yang membeliku baju. Yang membeliku sepatu. Yang membeliku mimpi. Akh, Abang. Lihatlah dia makan begitu lahap. Terasa sekali bahwa hidup Abang begitu keras, namun begitu lagi-lagi aku tak pernah mendengar Abang mengeluh atau menggerutu. Aku yakin, bahkan dalam makan pun Abang masih memikirkan hal lainnya. Abang, lelaki dua puluh tujuh tahun yang kini masih membujang. Lelaki yang bermimpi menaikkan Mak ke Mekah.
***
Kali ini, dengan persetujuan Abang, aku belajar bagaimana caranya terjun langsung sebagai perambah hutan. Ini sebutan buat kami. Aku tak pernah mengucapkan sebutan ini di depan Abang. Setelah sebelumnya hanya sebagai pengambil air minum, menyusun papan dan kasau, penyedia makanan saat istirahat, hari ini aku mulai diajarkan untuk memilih kayu mana yang bagus di buat papan dengan kayu mana yang bagus di buat kasau dengan cara melihat alur pertumbuhan batang.  Dengan teliti dan terperinci Pak Sanip mengajarkannya padaku. Aku senang-senang saja karena menurutku ini awal aku dapat menjadi seorang lelaki seperti Abang. Dari sekian banyak pohon ternyata hanya sebagian yang dapat dijadikan bahan untuk meubel. Sebagian lagi bagus untuk bahan kusen. Sebagian yang lain cocok untuk dinding dan lantai rumah. Aku mulai sadar ternyata ilmu ini pun tidak pernah aku dapatkan di sekolah.
Hari ini genap empat hari aku ikut Abang. Berbagai pelajaran yang selama ini tidak aku pikirkan, diajarkan oleh Abang dan teman-temannya. Aku kini mahir mengukur gelondongan kayu yang akan dibuat papan dengan alat ukur dari benang panjang yang di beri tinta oli hitam. Aku sudah tahu bermacam ukuran papan dan kasau yang bagus. Aku telah di beri kepercayaan oleh Bang Badrun untuk menjadi asistennya. Walaupun aku sangat ingin memegang mesin, tapi Abang melarangnya. Aku tak berani membantah Abang. Kata Abang, aku tak boleh memegang mesin karena takut setelah tahu enaknya memegang mesin, maka aku akan lupa sekolahku. Teman-teman Abang hanya tertawa saja. Menurut penalaranku, Abang menyiratkan agar aku sekolah terlebih dahulu hingga tamat, karena jika aku sudah tahu enaknya mencari uang maka aku akan lupa pada tugasku sebagai seorang pelajar. Aku sebenarnya tidak pernah mengatakan ini sebuah pekerjaan, melainkan penjarahan. Bagaimana tidak, tak ada izin resmi dari siapa pun kalau kami diperkenankan untuk membabat hutan ini. Apalagi hutan ini adalah hutan kawasan yang berada di kabupaten kami. Kabupaten Lampung Barat, sebuah kabupaten yang masih dipenuhi hutan-hutan yang masih perawan. Hutan inilah yang menjadi tumpuan hidup sebagian warga di pesisir seperti kami yang tidak dapat bercocok tanam karena tidak mempunyai tanah. Atau melaut karena laut terkadang tidak bersahabat. Juga solar ataupun bensin buat menghidupkan mesin kapal terkadang sulit di dapat. Hutan ini sangat luas. Membelah kota Liwa dan kota Krui. Berpadu sepanjang Bukit Barisan Selatan. Beratus hektar dengan populasi hewan buas di dalamnya.  Menurut kami, inilah surga. Tempat kami membeli mimpi. Kami nekat demi perut kami. Entahlah, aku susah untuk menjelaskan apakah tindakan kami ini benar atau tidak. Di pedalaman hutan yang belum terjamah, kami merajut mimpi agar kelak setelah kami dapat uang, kami akan menghentikan pekerjaan ini dan mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Abang yang hanya lulusan SMP pun tahu kalau apa yang dilakukannya ini bertentangan dengan apa yang telah dia dapat dari bangku sekolah, tapi lagi-lagi telah aku katakan bahwa mimpi kami adalah mimpi yang sederhana. Mimpi yang menuntun kami untuk melakukannya.
Pohon yang kemarin telah tumbang hari ini mendapat giliran untuk dicacah gergaji. Pohon yang berbobot berkali diameter drum itu sedikit demi sedikit menjadi bilah-bilah papan dan kasau. Kata Abang, kelak papan dan kasau yang telah jadi ini akan ditampung di sebuah panglong kayu di daerah kami. Meski jauh di pedalaman, kami sangat tertarik dengan harga yang ditawarkan. Tak peduli nyamuk malaria menunggu. Tak peduli kucing hutan mencari mangsa. Tak peduli ular yang baru beberapa hari lalu mematuk kaki Darsan. Tak peduli polisi hutan yang siap menghadang. Kami tak peduli. Yang kami peduli adalah membeli mimpi. Mimpi kami yang sederhana.
Mesin-mesin kembali berteriak. Serbuk-serbuk gergaji berhamburan. Celotehan berhenti. Peluh mulai menitik. Aku sendiri sibuk mengangkut dan menyusun bilah papan dan kasau yang telah jadi. Bertumpuk papan telah tersusun. Bergelondong kayu telah di gergaji. Belasan pohon telah tumbang. Kami sedikit lega karena sudah empat hari tidak ada halangan apapun, kecuali kaki Darsan yang sedikit nyeri setelah di patuk ular. Untung saja ular itu tak cukup berbisa membunuhnya.
“ Fan!,” panggil Abang ketika istirahat siang. Matahari jatuh teriknya. Angin serasa enggan bertiup. Panas menyergap sebab pohon besar hanya tinggal patok lagi. Abang membuka bajunya. Ototnya yang menonjol tampak berkilat oleh keringat. Kulitnya yang kecoklatan menambah tegap otot itu.
“ Ya, Bang,” jawabku. Aku mengulurkan segelas air minum. Abang meraihnya dan langsung menyeruput habis air itu. Abang diam sesaat. Entah apa yang tengah dipikirkannya. Dia mematung memandang tunggul-tunggul kayu yang tak beraturan didepannya.
“ Besok kamu pulang saja ke Krui.” Aku terkejut. Pulang?
“ Kenapa, Bang? ‘Kan baru empat hari? Abang ‘kan bilang aku boleh ikut seminggu ini?” tanyaku heran. Kulihat wajah Abang dipenuhi kegelisahan.
“ Abang takut akan terjadi sesuatu disini.”
“ Maksud Abang?”
“ Dua malam ini Abang bermimpi buruk,” Abang menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. “ Abang bermimpi pergi dari rumah. Itu sangat menggangu pikiran Abang.”
Aku terdiam. Ada suasana yang meremangkan kudukku. Aroma yang tercipta dari tangan-tangan gaib hutan ini. Aku menunduk. Abang jelas melihat kekecewaan dimataku.
“ Abang tidak usah khawatir denganku. Abang ada disini, mengapa pula aku takut?”
“ Masalahnya tidak sesederhana itu.” Abang terdiam. Aku tengah asyik membaca apa yang sedang dipikirkan Abang. Mencoba menghubungkan jalan pikiranku dengan jalan pikran Abang namun tetap saja buntu. Lantas mengapa begitu cepat Abang menyuruh aku pulang?  Padahal aku baru saja merasa sebagai seorang lelaki disini.   “ Besok ada orang dari panglong yang akan kemari. Abang bisa menitipkan kamu dengannya.”
Aku kecewa. Aku ingin membantah, tetapi aku sangat segan pada Abang. Abang ternyata masih menganggapku adik kecilnya. Padahal aku ingin seperti Abang. Gagah dan berani serta bertanggung jawab dengan keluarga. Berbagai rayuan dan alasan aku kemukakan agar Abang membatalkan keputusannya. Tapi tidak berhasil. Hanya karena mimpi? Bah, aku tak percaya kalau Abang percaya pada mimpi. Padahal selama ini Abang sangat rasional. Jarang Abang percaya pada hal-hal yang bertentangan dengan akal sehat. Tapi kali ini? Akul ihat Abang tidak sedang bercanda. Ada gurat kekhawatiran padaku. Tapi apa? Hutan lebat ini menelan semua pertanyaanku hingga waktu makan siang tiba. 
***
            Aku mencium tangan Abang juga tangan teman-teman Abang. Bang Badrun malah menepuk-nepuk pundakku seraya berkata, “ Kapanpun kamu mau, datang lagi kemari, Fan. Abang siap menerima kamu jadi asisten lagi,” Abang terlihat tidak senang. Sepertinya Abang tidak bercanda dengan keputusannya. Setelah wanti-wanti sebentar dan memberikan uang belanja untuk Mak dan untukku, Abang berkata “ Ingat pesan Abang semalam. Jangan pernah melawan Mak. Kamu wakil Abang di rumah. Jangan buat Abang kecewa.” Aku berpamitan. Di dalam saku terkumpul uang dari Abang dan teman-teman Abang yang baik hati dan suka berkelakar jorok itu sejumlah lima ratus ribu rupiah. Aku sedikit lega karena kini aku telah mampu membuktikan pada Mak dan Abang kalau aku juga dapat diandalkan. Lepas tengah hari, bersama dua orang dari panglong, aku turun. Dengan berat hati aku menjauh dari kamp. Dimata Abang aku lihat ada sedkit kelegaan. Apa yang sebenarnya Abang pikirkan? Beberapa langkah aku meninggalkan kamp, secara ajaib hatiku mulai merasa bahwa aku tidak akan bertemu Abang lagi. Tetapi untuk kembali, aku takut. Jika aku mengatakan apa yang aku rasakan, pastilah Abang akan marah. Bagaimana mungkin aku mencari alasan yang tepat jika mata Abang masih saja mengiringi langkahku hingga hilang di balik belukar? Langkahku terasa amat berat. Dadaku sesak. Pikiranku penuh. Entah apa yang akan terjadi nanti, harapanku kini cuma satu : jangan sampai aku berpisah dengan Abang. Jalan berliku dan semak belukar di kiri-kanan tidak lantas membuat hatiku tenang. Beberapa ekor burung berkicau. Jangkrik menderik. Tupai berlompatan di dahan sangon. Semua bergembira. Kecuali aku. 
            Setelah berjalan selama kurang lebih empat jam akhirnya sampai juga kami di mulut jalan. Setelah mengucapkan terima kasih dengan orang-orang dari panglong, aku kembali naik ojeg untuk segera pulang ke rumah. Dengan ojeg pun aku harus sabar menempuh perjalanan aspal selama satu jam. Dalam perjalanan panjang ini otakku masih teringat Abang. Teringat semua pesannya semalam. Teringat pandangan matanya yang menyimpan sesuatu. Abang ada apa, gumamku?
            Di rumah aku disambut Mak. Rumah sepi. Sepertinya adik-adikku tengah menonton tv di rumah tetangga. Setelah kucium tangan Mak aku menghempaskan diri di balai-balai. Penat di tubuhku sedikit terobati. Dengan jemari kutekan-tekan punggungku yang terasa pegal. Akh, ternyata ini yang dirasakan Abang. Rasa yang harus ditanggung karena mencari kehidupan untuk membeli mimpinya.
            “ Api kabarni Abangmu?”[4] tanya Mak setelah menyodorkan segelas air minum.
            “ Wawai, Mak.”[5] Jawabku seraya mengeluarkan dompet lalu mengulurkan uang ke tangan Mak. Mak menghitungnya.
            “ Lamon  nihan duit sinji. Jak Abangmu?[6]
            “ Ya, sebagian jak upahku.”[7] Mak terdiam.
            “ Wat pesan jak Abangmu?”[8] tanya Mak lagi. Aku Cuma menyampaikan sebahagian pesan Abang buat Mak, sementara hatiku masih saja menerka semua kejadian di kamp tadi. Aku tidak menceritakan apa yang aku rasakan takut jika nanti Mak akan berpikir yang tidak-tidak. Lepas magrib pikiranku makin tidak menentu. Ada ganjalan yang semakin berdetaknya jam semakin menambah berat di pikiranku.. Apa yang terjadi Bang?
            Sehabis isya aku menjumpai Mak yang sedang menjahit bajuku yang robek tersangkut ranting sewaktu pulang tadi. Dengan hati-hati aku duduk dekat Mak sambil membetulkan letak sarung agar tidak melorot.
            “ Mak, hari sabtu aku mau naik lagi.”
            “ Abangmu sudah tahu?”
            “ Belum, malahan kemarin abang yang menyuruhku turun.”
Mak menghentikan jahitannya.
“ Kenapa? Kamu buat Abangmu marah?”
            “ Enggak, Mak.”
            “ Terus?”
            Aku terdiam. Susah menjelaskannya. Jika ada kata-kata yang mudah, mungkin aku sudah sedari tadi mengatakan apa yang aku rasakan tanpa harus menunggu kata sederhana yang tak juga saya temukan. Keraguan menderaku. Melihat Mak bingung, aku lantas berujar, “ Hari sabtu aku akan naik lagi Mak. Abang mungkin butuh saya disana.”
***
            Aku menyiapkan tas dan beberapa potong baju. Tak lupa beberapa bungkus rokok buat Abang. Kopi dan tiga bungkus tembakau lintingan buat Pak Sanip. Beberapa bungkus penganan juga aku ikat rapi di dalam plastik lantas aku masukkan pula ke dalam tas. Adikku yang terkecil melihat saja apa yang aku lakukan. Sesekali tanganku mengelus kepalanya. Hal yang selalu dilakukan Abang jika salah satu dari adiknya menangis. Hari ini telah aku putuskan untuk naik, tidak peduli apakah aku nanti akan dimarahi atau tidak, yang penting aku naik. Di luar Mak tengah menerima tamu. Entah siapa. Namun tiba-tiba saja Mak berseru memanggilku sambil menangis. Aku terkejut, mendatangi Mak yang terduduk di balai-balai.
            “ Mak ada apa?”
Mak masih menangis. Mataku beralih ke arah si Tamu, ternyata Bang Badrun. “ Ada apa Bang?” Bang Badrun agak ragu, dia menyiratkan aku duduk, setelah menarik nafas dalam dia berkata,
Fan, jeno bingi kamp di serbu liman liar. Zahri naas, ia di ilik liman.....”[9]
***



[1]   ( Lampung dialek Pesisir :  Woy... kita istirahat dulu. Besok lagi dilanjutkan)
[2]  (Lampung dialek Pesisir : Ayo, makan dulu. Ini sudah disiapkan Ahman.)
[3]  (Lampung dialek Pesisir : Ya, Bang. Memang sudah lapar betul.)
[4]  ( Lampung dialek Pesisir :  Bagaimana kabarnya Kakakmu?)
[5] ( Lampung dialek Pesisir :  Baik-baik saja)
[6] ( Lampung dialek Pesisir : Banyak sekali uang ini, dari Kakakmu?)
[7] ( Lampung dialek Pesisir : Ya, sebagian dari upah saya)
[8] ( Lampung dialek Pesisir : Ada pesan dari Kakakmu)
[9]  (Fan, tadi malam kamp di serang gajah liar. Hendra naas, dia diinjak gajah-gajah itu..)
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

{{ date }}
{{ time }}
BIRU ANGIN

Postingan Populer

My Profil

Foto saya
Hidupmu takkan berubah jika kau hanya berpangku tangan

Recent Posts