Perempuan itu pun bunting karena bulan. Perempuan itu pun di usir dari kampung juga sebab bulan. Maka ketika dia mengutarakan niat untuk mencari bulan tidak ada yang menghiraukannya. Sebulan dia habiskan waktu untuk mendaki gunung dan mencairkan es disana demi mendapati jejak bulan. Tetapi tidak dia temui jejak siapa-siapa disana. Sebulan dia menuruni lembah demi mencari aroma tubuh bulan. Tetapi yang dia temui justru aroma kematian dari beberapa serigala kelaparan. Dan sebulan dia mengarungi lautan demi untuk mencari bayangan bulan, tetapi dia tidak menemukan juga bayangan bulan di riak gelombang lautan.
Dia rela berhari-hari dengan gelisah menantikan dimana bulan tengah bersinar. Dia gelisah menantikan malam yang tidak juga kunjung datang. DiIa gelisah, benar-benar gelisah. Tetapi kegelisahan itu tidak juga kunjung mereda sebab dia tidak lagi mendapati bulan di atas kepalanya. Meredup. Maka dia pun bertanya : Dimanakah bulan?
Jauh jarak antara perempuan bunting itu dengan bulan, bulan tengah asyik mengaca di cahayanya sendiri. Dia mengagumi wajahnya yang senantiasa membias cahaya putih menyejukkan. Dia selalu kagum karena pikirnya tidak ada sesuatu apapun yang dapat menandingi kecantikannya. Dia selalu tersenyum jika berhasil menciptakan bayang di antara pokok-pokok pohon akasia, atau menciptakan benderang di antara gelapnya akar-akar beringin yang merindang di sudut hutan tempat ia meniduri si perempuan. Dia seketika tercenung. Ya, dia baru ingat bahwa ia pernah bersama seorang perempuan di malam itu. Bulan murung memikirkan dimana perempuan itu kini.
Dia baru ingat bahwa dia pernah berjanji akan menikahi perempuan itu. Pernah berjanji akan membina sebuah ikatan rumah tangga yang utuh dengan lima orang putera yang lucu-lucu. Bulan menginginkan kebahagiaan seperti yang dia dengar dari makhluk hutan saat ia berjaga di malam dulu. Dia juga iri melihat sekumpulan jangkrik meracau riuh rendah bersama keluarga mereka di malam itu. Dia inginkan kehidupan yang seperti itu. Ketika ia nyatakan keinginan itu pada bintang,dia pun di tertawakan ia - menurut bintang - tidak pantas berdampingan dengan manusia. “ Kau tinggi dan cantik, tidak pantas turun kesana lantas menikahi wanita itu,” kata bintang saat itu. Ia juga pernah menyatakan niatnya pada awan yang berarak menuju siluet senja itu, lagi dia ditertawakan. “ Tidak pantas kamu bersanding dengan wanita itu. Kau tidak pantas sama sekali. “ kata awan.
Bulan pun bimbang. Ia menemui sekumpulan planet dan mengutarakan keinginannya. Dia lantas mendapatkan jawaban yang kurang lebih sama. Dia semakin bingung. Maka dia putuskan harus menghamili seorang gadis lantas dia akan bertanggung jawab untuk memuluskan jalannya menuju sebuah ikatan itu. Tekad bulan sudah bulat. Dia harus segera menemukan seorang wanita secepatnya, atau tidak sama sekali.
Bulan turun ke bumi lantas bertengger manis di dahan jambu depan rumah wanita yang ia ingin hamili. Merenung sesaat menanti waktu kapan ia akan mengetuk daun jendela kamar wanita itu, membisikkan sajak penuh kata cinta dan mengajaknya bercinta. Bulan masih bertengger manis, ia bimbang. Haruskah ini aku lakukan demi egoku sendiri?, batinnya. Akh, semua mengambang. Ia makin bimbang.
***
Saat ini, setelah dia berjaga semalaman, bulan merasa sepi. Ada kekhawatiran lagi di benak bulan sebab karena sepi seperti inilah bulan lantas menghabiskan waktu dengan bermain bersama gadis kampung yang selalu menantinya dari balik tirai jendela kamar lalu keduanya bercumbu. Mereka melupakan sesaat semua mimpi, merangkai indahnya cinta yang pernah mereka baca dalam novel-novel percintaan. Cinta yang ingin mereka tanam adalah cinta yang abadi, seabadi kisah cinta Romeo dan Juliet, atau antara Shah jahan dan Banu Begum Mumtaz Mahal, atau mungkin seperti kisah cinta Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Kini cinta itu pula yang mendamparkan bulan kedalam sebuah lingkaran tanya. Apakah aku harus bertanggung jawab atas kehamilan wanita itu? Akhirnya bulan lelah. Bulan tidak ingin muncul malam ini. Dia tidak ingin muncul lagi mungkin untuk selamanya. Dan itu membuat si wanita bunting sedih.
***
Sampailah si perempuan bunting di tepi sebuah telaga. Telaga itu tenang, namun tidak merona hingga dia tidak dapat mengaca. Dia hanya merenung di tepi telaga sambil menembang kuplet. Suaranya yang lirih menyapa dedaunan, menerbangkan sepi di ilalang kering yang luruh satu persatu. Menyapa rerumputan yang setiap menitnya menggeliat lemah. Suaranya yang pelan menjadi keras. Kupletnya kian menghantarkan ia labirin suara. Perempuan bunting itu tidak lagi menghiraukan sekelilingnya. Kini ia benar-benar telah terhipnotis oleh suaranya sendiri. Seolah memiliki daya magis, kuplet itu menuntunnya untuk bangkit dari duduk lantas dengan gerakan lembut ia menggoyangkan tubuhnya kekanan dan kekiri. Tangannya mengapai langit, seolah-seolah melukis, jemarinya ia gerakkan perlahan mengikuti nyanyian. Kaki jenjang itu begitu fasih melangkah satu demi satu dengan urutan yang seolah telah dihafal sebelumnya.
Nada-nada dari kuplet itu menjadi bius hingga ke syaraf-syaraf otaknya. Gerakannya makin lama makin cepat. Dedaunan beterbangan tersapu angin yang diciptakan gaun panjangnya. Air telaga bergejolak. Reremputan mengamuk. Dahan-dahan bergemeretak. Kunang-kunang menyingkir. Binatang malam berhenti berkicau. Awan bergulung-gulung. Semua takjub.
Tetapi sesungguhnya perempuan bunting itu bukan menari, dia tengah asyik masuk dalam sebuah mimpi indah dalam dunianya. Disana telah menanti bulan yang sangat dia rindu. Dengan mulut ternganga dan tubuh gemetar dia menyambut tangan bulan yang terulur. Keduanya berpagut. Ada rindu yang seketika menguap di pelukan bulan. Sebagai dua orang kekasih yang tidak pernah bertemu, keduanya melepas rindu. Berpelukan, berciuman, berpelukan lagi, berciuman lagi. Keduanya bercengkerama penuh gelak tawa. Keduanya sangat bahagia, itu jelas terlihat dari wajah mereka yang menyungging senyum.
Bulan dan perempuan bunting itu duduk melepas rindu di sebuah pelaminan yang di hiasi tilam-tilam warna emas. Buah-buahan segar tersedia di tiap sudut pelaminan itu. Bunga melati mewangi disebar di karpet merah tempat pelaminan itu berada. Dawai kecapi mengalun indah mengiringi gemulainya tarian beberapa orang gadis ayu di depan mereka. Pakaian mereka kini terbuat dari sutra yang dihiasi bordiran bunga krysan merah. Bunga kesukaan perempuan itu. Pipinya merona ketika tangan halus bulan menyapu lembut wajahnya. “ Kau cantik sayang,” sapa bulan. Wanita itu tersenyum, ingin dia utarakan juga kata-kata puja untuk bulan tetapi dia malu. Ingin dia bacakan puisi cinta untuk bulan tetapi dia tak kuasa. Dia hanya tersenyum dan tersenyum.
Keduanya menghabiskan waktu dengan bercengkerama, tertawa, bermain, bernyanyi, dan semua hal indah yang selama ini perempuan itu inginkan. Waktu berhenti berputar, jam tak lagi berdetik, siang malam tak berganti. Semua alam ikut merasakan kebahagiaan yang kini tengah melingkupi dua insan yang tengah di mabuk asmara itu. Anggur-anggur dituangkan, buah dan masakan dihidangkan, wanita itu sangat menikmati kebersamaannya dengan bulan.
***
Genap sembilan puluh hari sudah wanita bunting itu mencari bulan, genap pula kesusahan yang dia terima dari segala keinginannya itu. Tidak ada seorang pun mengerti kesusahan yang tengah dia derita. Padahal dia berharap ada yang peduli padanya. Dia berharap orang akan menyamakannya seperti manusia kebanyakan, bukan seperti monster ataupun binatang yang tidak patut dikasihani. Bahkan dia berpikir bahwa binatang masih jauh lebih baik derajatnya dibanding dia. Dia hidup sendiri di dunia ini sementara binatang ada yang memiliki tuan yang memberi binatang itu tempat tinggal di rumah mewah dengan makanan-makanan enak. Sungguh tidak adil. Tuhan seakan mengunci semua pintu kebahagiaannya. Hingga hanya derita dan nestapa yang dia terima. Wanita bunting itu pernah memaki-maki Tuhan seraya menunjuk-nunjuk langit, memerotes keputusan Tuhan yang tidak mempertemukannya dengan bulan. Semua isi hatinya dia tumpahkan saat itu berbarengan dengan hujan yang semakin melebat. Dia menghujat. Memaki. Marah. Berteriak.
“ Hidup adalah jalan panjang dari barat menuju ke timur. Tanpa naungan awan dan hijau rerumputan. Hidup hanya menjalani takdir yang telah digariskan. Tidak dapat diubah. Pasti. Menemukan takdir sama sulitnya dengan menemukan cinta sejati antara kau dan bulan.” Itu petuah yang wanita itu dapatkan tatkala dia meminta nasihat dari wajah dibalik pantulan kolam. Dia tak dapat menangkap makna dari petuah itu karena dia sendiri tengah sibuk menawar sebuah janji yang pernah bulan lontarkan padanya. Janji itulah yang kelak akan dia tagih. Sebagai utang, maka dia merasa memiliki kewajiban untuk menegur sang pemberi janji agar tidak pernah melupakan janjinya. Mengenai janji, perempuan ini acap kali merasa terbebani karena setiap kali dia diberi janji maka si pemberi janji akan memungkiri janji tersebut hingga perempuan ini tak pernah lagi menagih lagi. Kesal, bosan, dan merasa dibohongi berbaur dengan harap semoga saja si pemberi janji menepati janjinya hingga ia merasa sedikit dihargai. Itu saja.
Sebenarnya perempuan bunting itu tidak terlalu berharap banyak mimpinya akan terkabulkan. Pernah suatu hari dia menulis sesuatu seperti layaknya surat yang dia tulis di daun jati kering. Surat itu, seperti pengakuannya, akan dia tujukan kepada Tuhan sebagai protes terhadap nasib yang tengah dia jalani kini. Dia berharap dengan surat itu Tuhan mau bersusah sedkit merubah garis takdirnya. Banyak yang mengatakan dia gila saat itu, banyak yang mencibir dan bahkan tidak segan untuk mengoloknya, “ Hey, perempuan gila! Apa benar kamu nulis surat untuk Tuhan?” Ketika si perempuan mengatakan ya, si penanya tertawa terbahak-bahak seraya berkata, “ Kalau begitu, jangan lupa, saya titip salam juga sama Tuhan. Bilang kalau saya pengen jadi Lurah di kampung ini. Biar tambah makmur kampung ini, tidak seperti sekarang…!” Perempuan itu hanya diam, asyik saja dia menyelesaikan suratnya itu.
Maka ketika penduduk kampung itu menemukan dia bunting, gegerlah seluruh warganya. Desas-desus pun bermunculan. Spekulasi menjamur dimana-mana. Para ibu khawatir jika suaminya menjadi tersangka. Para lelaki bertaruh siapa yang akan tertangkap sebagai tersangka. Anak-anak muda malahan asyik membicarakan, walaupun dianggap gila, kecantikan wanita itu. Tetapi ada juga yang tidak menyukai situasi ini. Lurah dan jajarannya. Ada pekerjaan baru buat Lurah di kampung sepi itu, kini Lurah dan pihak berwajib sibuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas kehamilan wanita itu di samping juga memberikan rasa aman kepada warganya yang kini telah dilanda wabah: siapa yang menghamili wanita gila itu.
Setiap malam diadakan ronda, takut jika ada lagi korban anak gadis yang hamil tanpa suami. Warung-warung yang ada di kampung itu di tutup jam sepuluh malam hingga tidak ada lagi yang begadang hingga larut malam, kecuali petugas ronda tentunya. Gadis-gadis pun khawatir pergi keluar sendirian baik siang maupun malam. Takut jika kegadisannya terenggut di tengah jalan. Maka kini yang tampak adalah kampung mati. Tidak ada lagi tawa. Tidak ada lagi geliat yang menandakan kalau kampung itu ada penghuninya. Setiap malam gelap gulita. Pemuda-pemuda jarang keluar rumah. Hingga timbul masalah baru: Pengangguran terselubung. Para ibu malas meninggalkan rumah takut kalau anak gadisnya di culik orang. Para bapak tidak turun lagi ke sawah takut ada gosip yang mengatakannya tersangka. Pemuda-pemudanya pun kini malas bekerja, takut di tuduh orang yang menghamili si perempuan. Kampung itu kini mati. Kampung itu kini didiami orang-orang yang malas. Penakut. Tak ada lagi kegembiraan disana. Hanya satu orang yang merasa gembira, wanita bunting!
Wanita itu kini bebas melakukan apa saja yang dia suka. Menyanyi, menari, bercanda dengan rerumputan, dan hal lain yang membuat dia senang. Seketika saja dia menjadi selebritis di kampungnya. Setiap menit, setiap jam, setiap hari, dia selalu menjadi bahan pembicaraan. Tidak pernah sepinya seolah-olah dia adalah si pembuka mata orang-orang kampung itu bahwa di kampung mereka ada seorang pemerkosa. Satu hal yang wanita bunting itu sukai dari perubahan ini, banjir simpati. Ibu-ibu yang dahulu mengusirnya jika dia minta makan kini berbalik memberi dia makan tanpa diminta. Anak-anak kecil yang dahulu mengolok-olok dia sepanjang jalan kampung kini berpaling menjadi segan padanya. Dan gadis-gadis di kampung itu kini telah mengakui kecantikannya. Luar biasa! Hal inilah yang membuat wanita bunting itu suka. Bahkan ingin keadaan ini berlanjut selamanya. Ingin dia utarakan kegembiraannya dengan menulis kembali surat untuk Tuhan, yang berisi rasa terima kasih telah buat bunting. Dia pun tak lagi ambil pusing kalau penduduk kampung mengatakan dia gila. Biarlah begitu, pikirnya, toh aku masih bisa berpikir sebagai orang waras. Bukankah orang gila tidak dapat berpikir jernih?
***
Bulan merana. Kesepian yang melingkupinya kini membuat dia malas untuk berlayar setiap malam. Kerjaannya kini dia habiskan waktu untuk bermalas-malasan di peraduannya. Alam menggulita. Bintang enggan berkedip. Langit murung. Sebagai protes atas kemalasan bulan. Tapi bulan tidak peduli. Dia memikirkan wanita itu. Bulan tahu jika wanita itu kini tengah hamil. Dia tahu bahwa kini dia akan menjadi calon bapak. Tetapi dia sendiri bingung. Apa yang harus dia lakukan? Tidak mungkin pikirnya dia menikahi wanita itu. Melupakanya? Juga tidak mungkin sebab dia telah berjanji untuk selalu mendampingi wanita itu apapun yang terjadi. Dilema menghantuinya kini. Tanpa ada sedikit jalan buat dia mengentaskan masalah ini. Akhirnya bulan lelah. Terbaring lemah tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Sementara itu. Di sudut kampung yang sunyi, terdengar suara bayi menangis.
***





Tidak ada komentar:
Posting Komentar