Wotogal Agil




+    Kau datang darimana?
-     Dari khayalan.
+    Maksudmu imajinasi?
-     Seperti itulah.

            Rambut masainya bergoyang terterpa hembusan angin yang membawa embun. Membawa dingin dan kian memberi kepastian bahwa aku memang tak ingin sendiri. Aku butuh teman dan sekarang ia ada disini walau aku tak pernah tahu dari mana ia datang.

+    Kau punya orang tua?
-     Mereka sudah mati.
+    Aku turut bersedih.
-     Tak perlu, aku tidak sedih. Malah gembira.
+    Kenapa?
-     Keluargaku hanyalah khayalan. Lebih baik mereka kubunuh agar aku bisa kemari.
+    Kau membunuh orangtuamu?
-     Mereka tidak berperasaan.
+    Kau pembunuh!
-     Sudah kukatakan, mereka hanya khayalan.
+    Bagiku khayalan atau bukan pembunuh tetap pembunuh!
-     Hanya adikku yang kutinggalkan disana.

    Ia terisak, bahunya berguncang pelan. Melankolis. Tapi itu cuma sebentar, cepat ia menyeka matanya.

-     Mungkin itu lebih baik.
+    Kau tidak sayang padanya?
-     Dia masih muda belum mengerti apa itu kasih sayang.
+    Suatu saat teman-temannya akan bercerita tentang itu..
-     Dia tidak memiliki teman. Hanya sendiri. Seperti aku.
+    Kasihan...
-     Dia atau aku? ( Pandangannya menyelidik )
+    Terserah kau.
-     Yang kutahu tiap sore dihabiskannya waktu melukis okarina.
+    Dia suka menyanyi? Pasti suaranya merdu!
-     Tidak. Dia lebih suka berteriak keras-keras sampai suaranya serak atau menangis.
+    Jadi untuk apa dia melukis okarina? Akan lebih baik melukis senja dengan sayap camar, mungkin.
-     Senja akan memberinya kemuraman. Dia benci itu. Dia juga hanya khayalan, tak usah bersimpati. Percuma.
+    Aku makin tak mengerti. Kenapa kau bercerita padaku? Tak takut kuceritakan pada yang lain?
-     Kau juga berasal dari khayalan, mana ada yang percaya sama kamu.
+    Kau hanya membual.
-     Lihat dirimu, kau tidak memiliki hati...
+    Kau salah! Aku punya! Ya aku punya. Semua orang bilang aku punya hati yang manis, ya manis. Kau tahu artinya? Oh...kurasa kau tak tahu. Sudahlah tak perlu kau pikirkan, aku maklum.
-     Hati itu perasaan.
+    Aku juga punya!
-     Perasaan itu nurani.
+    Nurani? Aku juga punya!
-     Kau tidak mengerti.
+    Seperti apa?
Ia berjalan kearah kolam, mengaca. Cahaya bulan memantulkan bentuk mukanya. Tiba-tiba ia marah. Air di kolam itu ia pukul-pukulkan dengan tangannya hingga sebahagian air memerciki muka pucatnya. Ia memaki-maki, mencarut, menendang, dan menumpahkan semua isi kolam kecil itu ke mukanya. Tanah tempat ia berpijak basah, tapi ia tak peduli. Terus memaki, ia berlari lantas diam, berlari lagi diam lagi, berteriak, memaki lagi, diam lagi.
-     Ha...ha...ha...ha...!!! Lucu sekali...ha...ha...ha...!!!
+    Kau menertawakan dirimu sendiri!
-     Kulihat di kolam bayanganku berupa pohon tua.
+    Hanya pantulan pohon.
-     Kau melihat pohon disini? ( Aku menggeleng, ia melanjutkan) Pernah suatu kali aku mengaca... Aku tidak suka melihat mukaku. Cermin itu kuhancurkan hingga aku tak bisa melihat mukaku lagi disana. Cermin itu pemberian seseorang yang paling kubenci.
+    Siapa?
-     Kau tak mau tahu, sebab aku pun tak tahu.
+    Menurutku kau terlahir sebagai pembuat onar.
-     Lebih dari itu. Aku juga pernah membakar temanku...
+    Membakar? Kau memang pembunuh!
-     ...yang mencoba menggagahiku...
+    Kau tega sekali! Bicara baik-baik itu lebih baik!
-     Lalu kucincang mayatnya dan kubikin sate.
+    Aku mau muntah!
-     ( Ia tertawa ) Itu belum seberapa.
+    Kau membakar apalagi?
-     Memakan teman priaku mentah-mentah.
+    Kanibal!!! Pasti karena itu lagi?!
-     Bukan. Suatu pagi setelah bangun dari tidur tiba-tiba kutemukan gigi-geligiku memanjang dari sebelumnya. Ada dorongan untuk mengaca, dan aku yakin itu bukan wajahku. Itu Vamvir, drakula, mungkin juga setan.
+    Aku tak mau mendengar lagi. ( Kututup telingaku  )
-     ...geligi itu merengek minta makan.
+    Kau menyuapinya?
-     Mereka tak suka sayur, ingin daging.
+    Maksudmu daging...
-     Ya. Tanpa dimasak apalagi bumbu.
+    Setan..!!
Malam melarut. Terdengar satu dua lolongan anjing dikejauhan, ditingkahi cericit kampret di pohon beringin. Bulan kian memerak, mencipta bayang    hitam     di sela-sela tunas bambu di seberang. Kami diam, lama juga. Aku mencuri pandang kearahnya. Kau sangat lemah, pikirku, kau perlu bantuan. Hhh, aku juga sama sepertinya, perlu bantuan, tapi siapa yang akan membantu? Siapa yang peduli kehadiranku? Aku ada atau tidak tak ada yang peduli. Aku datang sesuka hati dan pergi pun sesukaku, apa pantas aku mengemis bantuan?
Derajat adalah hal yang tabu untuk kuingat lagi. Cukuplah lelucon menjadi hiburanku. Tak perlu musik Jazz atau Mozart atau Klasik sebab saat kematianku pun tak ada iringan dawai biola atau sayonara dari lalat sekalipun. Semua alam menyukuri kepergianku, fantastis. Lebih dari itu bahkan cacing tak mau menyentuh jasadku. Keparat!!! Hewan menjijikkan!
-     Kau pernah meniti wotogal agil?
      ( Aku malas menjawabnya. Ia mengulang ) Pernah?
+    Belum.
-     ( Menatapku ) Wotogal agil akan membawamu ke keabadian. Tak ada kesedihan sebab semua yang disana pasti gembira.
+    Hanya dongeng.
-     Disana kau akan meminum air dibawah pohon hayat.
+    Bicaramu seperti seorang pemabuk.
-     Pergilah kesana jika inginkan keabadian!
+    ( Aku mulai muak ) Yang abadi hanyalah warna pelangi! Kau tau! Tidak ada keabadian disini! ( Suaraku meninggi, entahlah...)
-     Kau hanya diminta mencabuti rambutmu sehelai lalu rambut itu dibelah tujuh lantas dibentangkan dari timur hingga ke barat.
+    Mustahil. Dengar kau hanya seorang pembual. Aku tidak percaya, titik!
-     Aku pernah mendengar itu, tetapi...
+    Tetapi apa?
-     Aku pernah menitinya. Berkali-kali...
+    Kau?... Pernah? Akh yang benar saja... ( Aku mencibir )
-     Banyak yang jatuh waktu itu...
+    Oh.. kuharap ceritamu segera kau akhiri...
-     Dibawahnya hamparan api yang menghitam. Api itu dinyalakan sebelum aku dilahirkan, dan mungkin akan terus dinyalakan.
+    Jika aku menitinya... Aku akan memakai wimana.

Ia bamgkit dan mulai berlari-lari. Tingkahnya membuat aku sedikit terhibur. Jujur aku merasa sepi dan ia ditakdirkan datang untuk menghiburku. Ia berteriak-teriak sepuasnya Memaki, menghujat, dan menunjuk-nunjuk gugusan bintang di langit. Aku menikmati semua kegilaannya. Aku pun turut berteriak. Meneriaki Bapak yang pergi entah kemana, atau Ibu yang melacur demi menghidupi kami dan meneriaki takdirku sebagai seorang...
      Kami mulai kelelahan. Terengah-engah dengan nafas yang sama ketika ibu menjemput maut. Kami duduk bersisian. Aneh, ia tidak berkeringat.

-     Kenapa?
+    Kau tidak berkeringat.
-     Perlu kujawab?
+    Tidak.
-     Kau seharusnya mendengar teriakan itu. Bukan memperhatikanku.
+    ( Aku menyimak, bisu ) Hanya lolongan anjing.
-     Bukan! Dengar baik-baik!
+    Lantas siapa?!
-     Dia menjerit kesakitan...
+    Tak ada siapapun disini, sebentar lagi fajar!
-     ...dia menjerit lagi. Dengar. Lebih keras lagi...
+    Oleh apa?! Siapa?!
-     ...tangannya terpotong...
+    Akh...!
-     ...kakinya...
+    ... CUKUP!!!...
-     ...lehernya...
      ( Kututup telingaku untuk kedua kalinya. Ia masih mengoceh...)
+    HEY!!! Aku sudah tak tahan!!!
-     Ha...ha...ha...ha...!!! Kau penakut rupanya. ( Kudengar tawa itu seperti sebuah tamparan yang pernah mendarat di pipi kananku. Perih.)
      Aku ingin pisau ha...ha...ha...ha...!!!
+    Untuk apa?
-     Memotong lidahku.
+    Kau bosan?
-     Ya, suka memaki...
+    Juga tanganmu?
-     Juga tanganku, suka mencuri...
+    Juga hatimu?
-     Juga hatiku, suka membenci...
+    Dan matamu?
-     Tidak!
+    Kenapa? Begitu berharga mata itu buatmu? Menurutmu bukankah semua ini sama sekali tidak berharga? Sampah!
-     Aku ingin memandang  wajah pacarku...
+    Pacar khayalan? Sudahlah kau tidak punya pacar saat ini dan selamanya. Tidak akan pernah ada! Kau pembual!
-     Aku bisa mengajakmu  menjenguk dia. Memeluknya, menciumnya....
+    DIAM!!!
-     Aku ingin memandang wajah Maha!
+    Pacarmu?
-     Bukan. Tuhan.
+    Bagaimana mungkin. Kau seorang pembunuh! Dia tidak akan sudi melihatmu! Jijik! Jangan harap.
-     Aku ingin memeluk-Nya. Aku bisa mengajakmu.
+    Sebagai punakawan?
-     Bukan. Raja.

Malam akan berakhir tetapi aku tidak tahu kapan ia akan menyudahi percakapan ini. Menyudahi semua lelucon hidup yang ia tawarkan kepadaku. Akal sehat seakan membatu menyilang diantara embun yang menebal. Lagi-lagi aku merasa terhibur. Aku munafik, seolah tak ingin ia tawari sampah tetapi yang aku gali juga sampah. Aku terhibur...ya terhibur.

+    Kelam pergi... Tak banyak waktu lagi.
-     Aku belum menceritakan semua kisah ini padamu.
+    Ini hanya lelucon, bukan kisah. Kau harus bisa membedakan antara kisah dengan lelucon. Cih! Kau benar-benar naif.
-     Terserah kau...( Suaranya melunak ) Benar, kisah selalu diawali dengan “ Alkisah ” dan selalu diakhiri dengan “Mereka pun bahagia selama-lamanya ”. Sedangkan ini... aku tak tahu apa akhir dari lelucon kita.
+    Bukan “ kita ” tapi “ ku.”
-     ( Ia menarik nafas dengan berat, bersama itu dia berucap...) Cepatlah pergi!
+    Kau mengusirku?
-     Kau akan lenyap.
+    Bukan aku tapi kau!!!
-     Kita berasal dari kesunyian dan akan kembali ke kesunyian.
+    Aku akan mengingatmu dan akan kuceritakan ini pada anak cucuku kelak. ( Ia tersenyum menyindir )
      Aku tahu kita tak punya masa depan tapi kuharap ini tidaklah menjadi sia-sia. Satu tali bisa menjadi simpul, mungkin ini juga akan tertulis di sejarah kita. Kita terlahir untuk menulis sejarah.
-     Bukan sejarah tapi babad. Mungkin dongeng. Mungkin saja...
      Aku tak akan memiliki anak apalagi cucu nantinya.
+    Kenapa?
-     Aku dikutuk sebagai pembunuh.

Ia mengambil batu disampingnya dan memukulkannya ke kepalaku. Aku berteriak namun semakin aku berteriak semakin menjadi-jadi pula ia menghantamkan batu itu. Aku bergidik. Mata itu... penuh dendam. Bodoh! Tahu apa aku soal dendam? Yang kutahu hanya membalas sakit hati. Itu saja, tapi ... bukankah itulah dendam? Darah mengalir dari lukaku namun tidak menghadirkan perih disana. Aku heran sampai kudengar ia berkata...

-     Beginilah caraku menghabisi orang tuaku.
+    Durhaka!!!
-     Ha...ha...ha...ha...ha...ha...!!! Seperti Malin Kundang?
+    Lebih dari itu.

Ia masih tertawa. Biarlah, biar ia habiskan seluruh energinya untuk tertawa. Toh tak ada larangan disini bahkan aku pun akan tertawa nantinya. Menghabiskan energi untuk sesuatu yang percuma, siapa yang peduli? Aku bangkit dan membentangkan tangan menyilakan angin yang datang dari arah tenggara berembus pelan. Darah mengalir merembesi rambut di pelipisku lalu menetes bagai titik-titik air dari langit.
      Aku mengharapkan kedatangan wangi cemara yang basah berembun bagai tahun-tahun silam. Lalu mengharap cemas akan kehadiran dendrobium di selasar samping rumahku yang mulaI kedatangan tamu beberapa ekor kupu. Secumit senyum pun akan hadir tatkala aku berhasil menangkap makhluk lembut itu. Akh... ingatan itu kembali lagi, tak bisa kubendung. Dan muara dari semua itu...

+    Aku lelah.
-     Kau masih mengingat sampah-sampah itu.
+    Itu bukan sampah, Bodoh! Itulah kenangan!
-     Tak ada artinya. Disini kau sendiri dan akan menjalani hidup sendiri. Kau tak ubahnya aku. Dasar pemimpi! ( Dia benar aku pemimpi. ) Kau tahu ? Aku iri pada bulan itu. Begitu cantik.
+    Aku benci bulan!
-     Kenapa?
+    Karena... Karena dia yang mengatakan pada seluruh makhluk bahwa akulah pembunuh kakek di ujung jalan itu.
-     Apa?! Kau juga...?!
+    Dia sudah tua, sudah waktunya mati. Aku hanya mempercepat datangnya itu.
-     Kau benar-benar anjing! Jadi kita sama-sama pembunuh, ya ‘kan?
+    ( Tertawa ) Bodoh!
-     Apa maksudmu?
+    Itu hanya khayalanku saja. Ha...ha...ha...!!!
-     Bangsat!!!
+    Aku lelah dan ingin tidur...
-     Tak bisakah kau mengerti dimana kau sekarang berpijak?
+    Mengerti? Yang aku inginkan hanya mimpi tentang keheningan ditengah...
-     Baik...baik... Kau ingin tidur dan bermimpi?
+    Ya.
-     Ini obatnya. ( Ia mengacungkan pisau yang diselipkannya dibalik bajunya dan meletakkannya ditanganku.) Kita bisa menentukan takdir kita sendiri hitam atau putih. Tak ada lagi kesusahan, penderitaan, dan kemalangan. Semua bergembira dan pesta. Hey, kau suka pesta’kan?
      ( Ia mengerling)
      Aku mengangguk dan tersenyum padanya walaupun aku tahu kami akan segera lenyap bersama pagi. Jemari kami merapat hingga tidak ada celah untuk angin sekalipun. Kurasakan jantungku bergemuruh, sama seperti detak jantungnya.
Ada ketakutan yang sangat di jiwaku. Entah karena apa, tetapi semakin   mengembang  awan   merah  di ufuk  timur      semakin mengembang juga rasa penyesalan di hatiku dengan pertanyaan “ Kenapa aku tak terlahir kembali dan menjadi manusia yang sempurna?” Dan sebelun ini semua berakhir kudengar ia berkata...

-     Jangan ada penyesalan sebab menyesali sesuatu yang telah terjadi tak akan mengembalikan semua kehidupan yang telah diputar dan itu hanya memberi luka jika kita tidak siap untuk menghadapinya.
+    Kau percaya takdir?
-     Tidak! Terlalu menyakitkan.
+    Ya, seperti saat ini.
-     Tapi dia tetap mengikuti kita. Selamanya.
+    Aku lelah, aku ingin tidur dan bermimpi..

Di timur mayang merah kian merona, jasad kami pun kian memudar.  Jemariku  dan   jemarinya  menghilang,  tanganku dan tangannya melenyap, kakiku dan kakinya, wajahku dan wajahnya. Ada sinar dimatanya saat kutatap untuk terakhir kalinya, sinar yang sama dimataku. Lantas aku berpikir, inilah aku, ini jalanku. Mimpiku.

***
      Catatan :
      - Wotogal agil        : jembatan astral ( gaib )
      - Okarina              : sejenis suling
      - Dendrobium        : sejenis anggrek
      - Punakawan         : pendamping, pengiring, pengawal
      - Wimana               : kereta


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

{{ date }}
{{ time }}
BIRU ANGIN

Postingan Populer

My Profil

Foto saya
Hidupmu takkan berubah jika kau hanya berpangku tangan

Recent Posts