Hari ke-dua puluh sejak kematian ayahnya.
Hachiko merasakan betul perubahan dalam dirinya. Sesuatu yang membuat dia merasa berbeda dari dirinya yang dulu. Dia merasa terjajah oleh tubuhnya sendiri. Dia tidak mengenal lagi dirinya. Dia benci dirinya. Ingin rasanya dia habisi saja nyawanya agar tidak lagi melihat wajahnya di cermin yang dia anggap sudah menjadi wajah alien. Dadanya bergemuruh. Mengapa aku tidak tegas pada diriku sendiri padahal aku sangat dekat dengannya?
Pernah suatu hari diam-diam dia menyelinap ke dapur. Tanpa suara dia menarik pintu bupet tempat ibunya menaruh pisau seolah tidak ingin terdengar suara berdenyit dari engsel pintu bupet, walaupun dia tahu kalau ibunya sekarang tidak berada di rumah, dan dengan berdebar diselipkannya pisau itu di balik baju. Dengan langkah kaku dia melangkah ke toilet. Hari ini sudah dia putuskan untuk mengakhiri semua penjajahan ini. Telah lama dia mengatur dan merencanakan hal ini seolah-olah tidak ingin ada kesalahan sedikit pun yang akan membuat rencananya gagal. Dia sengaja memilih toilet sebagai tempat untuk menghabisi ‘nyawa alien’, itu julukan baru bagi dirinya sendiri. Hal ini bukan tanpa pertimbangan. Dia sering menonton drama televisi bagaimana sang aktor memilih menghabisi masa hidupnya di toilet. Itulah alasannya mengapa dia sekarang berada di toilet. Perlahan dia mengeluarkan benda tajam itu dari balik bajunya. Dengan gemetar anak lelaki sebelas tahun itu mengamati pisau yang berkilat itu. Terbersit rasa takut didadanya. Kilatan pisau itu seakan mengejeknya. Mata pisau itu juga seakan menertawakannya. Dadanya bergemuruh. Entah apa yang dipikirkannya hingga dia amati saja pisau itu. Dulu kalau dia sedang marah yang tidak dapat di tahan lagi, dia akan buru-buru ke belakang rumah. Disana ada sebatang pohon mangga yang dia jadikan bahan tumpahan marah sekaligus kesalnya. Entah itu dengan memukul hingga jemarinya berdarah-darah. Entah dengan menendang dan semua hal yang akan membuat marahnya tersalurkan. Tapi sepertinya pohon mangga itu tidak lagi menarik.
Mengenai perubahan dalam dirinya, Hachiko merasakan hal itu sejak kematian ayahnya. Malam setelah sang Ayah dikuburkan, dalam jamuan makan bersama seluruh anggota keluarga ayahnya, dia merasa terasing. Ada jarak yang tercipta antara dia dengan ibunya, antara dia dengan kakaknya, dengan adiknya, bahkan dengan pamannya yang selama ini sangat dekat dengannya. Bahkan kakek dan neneknya seolah menjadi makhluk asing di matanya. Ketika jamuan makan itu berlangsung Hachiko tidak mengenal lagi wajah-wajah yang duduk mengelilingi meja makan itu. Semua asing. Dia tidak mendapati lagi senyum khas Ibu ketika menawarinya makanan kesukaannya. Atau tidak mendapati lagi tingkah lucu dari adiknya yang baru berumur satu tahun. Semua diam. Semua asyik dengan pembicaraan mereka masing-masing. Sedangkan Hachiko asyik mengamati orang-orang itu dengan berbagai tanda tanya dipikirannya. Kakeknya yang berkemeja putih bergaris hitam tampak asyik membicarakan sesuatu dengan ibunya. Sesekali neneknya menimpali. Entah apa yang mereka bicarakan. Hachiko sama sekali tidak mengerti bahasa yang mereka ucapkan. Sungguh tidak masuk di akal. Matanya beralih ke adiknya yang duduk tepat disampingnya. Adiknya sedang disuapi pamannya sambil sesekali bercanda. Lagi-lagi Hachiko tidak mengerti bahasa yang pamannya gunakan. Dia merenung. Apakah keluarga ini telah dijajah makhluk asing seperti yang pernah dia lihat di televisi? Apakah makhluk itu begitu sakti hingga mampu membuat seluruh anggota keluarganya menjadi orang asing? Makanan dalam piringnya hanya diaduk-aduk tanpa ada sesuap pun yang masuk mulut. Sampai dia mendengar suara ibunya, “ Chiko, habiskan makananmu!” Astaga, bahkan suara ibunya pun telah berubah! Tidak lagi lembut seperti sebelum ayahnya meninggal. Dan berpasang mata kini memandangnya dengan pandangan menyelidik. Mata-mata itu seakan ingin melumat dirinya bulat-bulat. Mata yang berbicara ”Enyahlah dari meja makan ini!.” Hachiko merasa terasing. Tetapi mengapa ketika menegur, Ibu menggunakan bahasa yang dipahami Hachiko?
Hari-hari sebelumnya. Hampir setiap sore biasanya Hachiko menghabiskan waktu dengan merawat tanaman mawar di halaman depan rumah. Berkebun adalah kegemarannya yang dia warisi dari sang Ayah. Mawar yang tengah berbunga memberi rona merah di rerumputan yang hijau. Sangat kontras dengan cat rumah yang bernuansa kecoklatan. Beberapa pokok melati merayap merambati kanopi yang terbuat dari besi sepuhan. Beberapa tanaman bunga lain rapi menempati pot-pot terakota di selasar. Hachiko sangat menyukai suasana ini. Suasana yang membuat dia sedikit bisa melupakan kejadian di sekolah yang selama ini menjadi beban baginya. Saat tangannya menyentuh kelopak mawar maka dia akan bercerita tentang kejadian-kejadian yang dialaminya di sekolah. Apakah itu kejadian lucu ataupun kejadian yang membuat dia sedih. Dia juga dapat menumpahkan semua isi hatinya yang tidak dapat dia utarakan kepada kedua orang tuanya. Dia juga dapat mengadu tentang sepatunya yang perlu diganti karena sudah robek disana sini. Mawar dengan bijaksana akan mendengarkan semua keluh kesah Hachiko hingga selesai. Hingga anak lelaki itu pulas.
***
Hari ke-tiga belas sejak kematian ayahnya.
Dia menjumpai taman itu kosong. Mawar yang dia rawat selama ini tidak ada lagi ditempatnya. Melati habis terbabat. Rerumputan digali. Pot-pot tanaman menghilang. Taman kini kosong. Dan yang lebih mengagetkan lagi cat rumahnya telah berganti warna menjadi warna yang sangat dia benci. Hitam. Dengan perasaan tidak menentu dia berlari masuk. Tas sekolahnya dia lempar begitu saja di sofa. Tergesa dia ingin bertemu dengan ibunya. Banyak protes yang ingin dia sampaikan. Kamar Ibu kosong. Dia berlari ke kamar kamar adiknya, juga tidak ada. Di dapur sepi. Satu tempat lagi pikirnya. Ibu pasti disana. Benar saja, di teras belakang dia melihat ibunya sedang mengobrol dengan seseorang. Serius sekali hingga kedatangannya tidak dihiraukan oleh ibunya. Hachiko mendekat.
Hachiko tidak mengerti percakapan ibunya dengan tamu yang bersetelan jas rapi itu. Dari sikapnya yang sopan dan beradab jelas sekali kalau orang itu bukan orang sembarangan. Tidak seperti paman Lee yang setiap sore berkeliling kompleks mengambil sampah dari rumah ke rumah. Paman Lee tidak pernah dilihatnya memakai baju dengan rapi apalagi mahal. Orang itu juga bukan tukang ledeng yang pernah membetulkan ledeng di dapur sebab setahunya tukang ledeng tidak berjas rapi seperti itu. Entah siapa tamu itu. Yang dia ingin tamu itu segera pulang agar dia bisa sesegera mungkin berbicara dengan ibunya. Dia tahu ibunya sedang tidak ingin digangggu. Terlihat sekali dari sorot mata ibunya yang tajam. Maka tanpa mempedulikan seragamnya terkena debu lantai Hachiko duduk di depan pintu. Lama menunggu, akhirnya tamu itu pulang. Hachiko bangkit mendekati ibunya. Baru saja dia akan membuka mulut ibunya memberi isyarat dengan tangan agar dia menjauh.
***
Hari ke-lima belas sejak kematian ayahnya.
Hachiko mengamati saja taman depan yang kosong itu. Dia tidak mengerti mengapa tadi siang Ibu marah besar saat Hachiko menanam satu pot mawar di tanah yang menurutnya luas ini. Apa salahnya menanam satu pohon, apapun pohon itu, toh tidak akan mengurangi luas tanahnya. Beberapa saat sebelum Hachiko membuka pot plastik dan meletakkan batang mawar kecil itu di lubang yang telah dia gali, ibunya datang dan langsung merebut pot mawar itu lantas mencampakkannya ke tanah dan mencincangnya dengan pisau yang dibawa dari dapur. Batang mawar kecil itu mengaduh kesakitan. Hachiko mendengar jelas sejak cincangan yang pertama. Hachiko berteriak agar ibunya berhenti. Bukannya berhenti malahan Ibu menempelengnya agar jangan lagi berteriak. Mata itu menyala seperti mata monster yang dia lihat di televisi. Hachiko gemetar. Hachiko menangis. Ibunya tidak peduli dan berlalu. Dengan berdebar Hachiko memunguti satu persatu batang mawar yang terpotong kecil itu. Hachiko menangis. Mawar itu menangis. Padahal mawar kecil itu pemberian Michiko, gadis tetangga yang ada di ujung jalan. Dia telah berjanji akan merawat mawar kecil itu hingga tumbuh besar dan berbunga. Sekarang musnah sudah harapan itu. Hachiko tidak mengerti mengapa orang-orang dewasa suka bertindak sesuka hati mereka tanpa pernah peduli pada perasaan anak-anak seusianya. Bukankah mereka dahulu pernah menjadi anak-anak? Apakah ingatan itu sudah hilang dari otak mereka?
Hachiko merasa terasing. Tidak ada lagi tempat dia bercerita. Padahal ada kejadian sedih di sekolah tadi yang ingin dia ceritakan kepada mawar. Tentang gurunya yang marah karena dirinya kehilangan buku pr-nya. Padahal jelas-jelas semalam buku itu dimasukkanya kedalam tas setelah dikerjakan. Tetapi gurunya tidak mau tahu alasannya. Dia pun tidak berusaha meyakinkan gurunya agar percaya, karena menurut hematnya si guru tidak akan mengerti. Juga tentang teman-temannya yang sengaja menaruh kulit pisang di tangga sewaktu dia turun istirahat hingga tak pelak lagi dia terpeleset dan jatuh berguling. Bukannya menolong tetapi mereka malahan tertawa. Hachiko menganggap mereka semua jahat. Hanya satu orang yang baik. Yaitu gadis kecil di ujung jalan yang menolongnya bangkit. Lalu membimbingnya menuju bangku panjang seberang tangga. Dengan penuh perhatian gadis kecil itu membuka bungkus plester dan sangat hati-hati menempelkannya di sikunya yang lecet terantuk tepi tangga semen. Ketika tatapan mereka beradu, Hachiko merasakan ada debar-debar halus di dadanya. Debar yang sama saat dia mulai merasakan mimpi bersama seorang gadis. Akh, ini gila pikirnya!
Hachiko merasakan betul kesepian ini. Menurutnya dirinya kini tengah berada di sebuah kamar kosong yang tidak ada satu benda pun didalamnya. Kamar itu mengurungnya tanpa memberi kesempatan untuk melihat dunia luar. Udara yang dia hirup adalah udara yang diberi ibunya. Cahaya yang di tangkap pupil matanya adalah cahaya yang telah di takar ibunya. Semuanya telah dijatah. Dia benci Ibu. Padahal dulu ibunya adalah sosok yang sangat penyayang. Tidak pernah terbersit dipikirannya bahwa Ibu akan berubah menjadi monster yang sangat menakutkan. Monster yang setiap saat akan melumatkannya. Monster yang setiap malam menghantuinya hingga dia sulit tidur. Mungkin juga ibunya adalah nenek sihir yang akan menyihirnya menjadi kelinci untuk mainan adiknya. Atau dia akan disihir menjadi patung pelengkap taman. Bisa jadi.
***
Dua jam sebelum kejadian itu.
Hachiko masih saja memandangi pisau berkilat itu. Ketakutan yang sangat membisikkan keraguan. Titik keringat membanjiri t-shirt dan dahinya. Kali ini harus berhasil. Harus. Dari saku celananya dikeluarkannya photo Ayah dan Ibunya. Hachiko menitikkan air mata. Dia rindu Ayah dan Ibunya. Dia rindu, sangat rindu. Wajah kedua orang tuanya menari di pelupuk mata Hachiko. Ingin sekali sesegera mungkin dia menghabisi nyawanya agar dia dapat kembali bersama kedua orang tuanya. Semua memori tentang orang tuanya tergambar jelas. Tentang teman sekolahnya. Tentang Michiko. Tentang Ibu dan saudara tirinya. Semua menari dalam ingatannya.
Air mata itu masih berlinang. Hachiko masih saja menatapi photo itu. Pisau juga masih digenggaman. Semua terasa lambat. Hachiko terluka perasaannya. Dia cowok, tapi dia selalu menangis. Dia tidak dapat lagi menahan semua penderitaannya. Dengan memejamkan mata Hachiko mengarahkan mata pisau ke pergelangan tangannya. Bibirnya dia gigit kuat-kuat. Detik itu dia berdoa kepada Tuhan agar dia dipertemukan lagi dengan kedua orang tuanya. Doa itu begitu lirih. Air mata masih menganak sungai. Namun sedetik kemudian…. “ BRRRRAAAAKKKK………..!!!!” Pintu toilet terbuka dengan paksa. “ Hachiko…! Apa yang kamu lakukan?!!”
***
Ambulance terparkir di depan rumah. Beberapa petugas medis tengah menyiapkan sesuatu. Sepertinya mereka tengah bersiap untuk menerima instruksi dari beberapa orang polisi dan ahli forensik yang sedang melakukan olah TKP. Tetangga tampak bergerombol di sisi rumah di belakang garis polisi dengan jalan pikiran mereka masing-masing. Suara gumaman mereka layaknya lebah yang mengelilingi bunga. Di ruang keluarga, seorang detektif mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ibu Michelle. Dengan terbata Ibu Michelle menjawab hal-hal yang ditanyakan detektif muda itu. Mata yang menurut Hachiko sebagai mata monster itu terlihat sembab. Suasana sedikit mengharukan. Berkali-kali Ibu Michelle menyeka matanya dengan sapu tangan. Detektif yang memberikan pertanyaan merasa sedikit rikuh. Sebagian besar pertanyaan itu berkaitan erat dengan kematian Hachiko yang tragis. Dengan hati-hati, dan sedikit di dramatisir, detektif itu mengajukan pertanyaan dibarengi dengan kata-kata penghibur agar Ibu Michelle tetap tegar. Empat puluh lima menit, setelah merasa data yang dibutuhkan sudah lengkap, itu terlihat dari kertas yang dipegang detektif itu hampir penuh, maka detektif itu pamit mengundurkan diri. Tidak lupa sebelum pergi dia menjabat erat tangan Ibu Michelle.
“ Saya turut berduka, Bu.”
“ Terima kasih.”
Detektif itu kembali bergabung dengan rekannya di belakang. Dari ruang keluarga hanya berjarak beberapa meter akan sampai di dapur. Dia terlihat antusias mendengarkan penuturan kawannya dari bagian forensik. Berkali-kali dahinya berkerut. Entah apa yang dipikirkannya, yang pasti dia mencatat sesuatu di lembaran yang sama ketika dia memberikan pertanyaan kepada Ibu Michelle. Sementara itu, sesaat setelah detektif yang memberikan pertanyaan itu pergi, Ibu Michelle kembali ke kamar. Didalam telah menunggu kakek Jhon Brown dan nenek Kelly Brown duduk di kursi yang menghadap langsung dengan ranjang yang terbuat dari kayu ukiran. Ibu Michelle menutup pintu perlahan. Walaupun mereka memakai pakaian serba hitam namun di wajah mereka tidak tampak kesedihan sedikit pun.
“ Polisi itu membuatmu gugup?” tanya kakek Brown.
“ Tidak, Ayah. Justru mereka tidak banyak memberikan pertanyaan.” Ibu Michelle mengambil tempat di tepi ranjang. Sprei biru mudanya sedikit tertarik. Ada bunyi berdenyit halus saat tubuh Ibu Michelle menduduki ranjang itu.
“ Kau memang pandai bersandiwara!. Ingat Michelle, Hachiko itu anak dari suami keduamu. Suami yang telah memberimu semua yang tidak pernah kau dapatkan selama ini!”
“ Ibu..! Mengapa Ibu seolah menyalahkan aku. Ibu ingat, dia cuma anak cacat yang menyusahkan saja. Aku tidak mau mengurusi dia terus menerus selama bertahun-tahun. Sudah waktunya kita menikmati semua yang kita nantikan selama ini.”
“ Michelle, dia cacat. Dia tidak mungkin menjadi penghalangmu untuk mendapatkan semua maumu.” Nenek Brown bangkit dari duduknya. Menghampiri Ibu Michelle dan menatap wanita muda itu dengan tajam. “ Kau Ibu yang tidak mempunyai perasaan. Selama ini Philip mencintaimu karena berharap kau akan mencintai anaknya seperti kau mencintai anak kandungmu sendiri. Apakah Philip pernah membedakan Hachiko dengan Smith? Bahkan Smith dia anggap sebagai bagian hidupnya. Tidak pernah Philip mengungkit siapa ayah biologisnya. Dia mencintaimu dan juga anak-anakmu.” Suara nenek Brown tertahan. Jelas sekali dia marah.
“ Sudahlah, sayang. Michelle sudah mengambil tindakan yang tepat. Kamu harus tahu beban yang ditanggungnya bertahun-tahun.” Jelas sekali itu pembelaan kakek Brown demi melihat istrinya itu menyalahkan Ibu Michelle. Nenek Brown diam. Di luar gerimis terlihat menyapu langit kota Leiden. Di jendela gerimis itu menciptakan embun, seperti juga di hati nenek Brown.
“ Oh, Hachiko yang malang. Maafkan nenek yang tidak sempat membuatmu bahagia.” Tangis terisak dari nenek berusia tujuh puluh tahun itu terdengar. Tangis yang menciptakan sedikit kebekuan di kamar mewah itu.
***
Sesaat setelah laporan dari bagian forensik keluar. Detektif muda yang pernah memberikan pertanyaan kepada Ibu Michelle itu tertegun. Laporan yang dia pegang kini sangat berbeda jauh dengan data yang didapatnya dari keluarga Hachiko. Nalurinya sebagai seorang detektif mengatakan ada kejanggalan disini yang sengaja disamarkan untuk menutupi sesuatu. Tapi entah apa. Dia sendiri masih meyakini keterangan yang didapatnya dari Ibu Michelle.
“ Hey, sobat. Kau yakin dengan temuanmu ini?’” tanya detektif itu pada temannya. Laporan itu masih ditangannya. Ada sedikit ketidakpercayaan di matanya.
“ Oh, Sam. Ayolah. Aku sudah bertahun-tahun di pekerjaanku ini. Aku tidak mungkin melaporkan sesuatu yang tidak perlu aku laporkan. Atau memanipulasi laporan.”
“ Hey. Aku tidak menuduhmu melakukan manipulasi,” bela Sam.
“ Ya memang, tapi matamu mengatakan itu.”
“ Aku hanya tidak percaya kalau anak bisu itu mati akibat cekikan.“
“ Dia mati karena kekurangan oksigen. Aku meyakini itu. Sebelum mati anak tuli...”
“ Dia bisu.”
“ Dia bisu dan tuli..”
“ Maksudmu..?”
“ Sam, setiap orang bisu itu disebabkan karena daya tangkap pendengarannya lemah. Haci..haci..ko…”
“ Hachiko.”
“ Ya, Hachiko. Begini Sam, jadi anak ini memiliki kekurangan dipendengarannya. Karena sejak kecil dia tidak dapat menangkap apa yang semestinya harus dia dengar sebagai proses mengulang bahasa. Akibatnya dia tidak bisa melafalkan huruf demi huruf sebagai proses komunikasi. Jadi kasusmu yang ke tiga belas ini berhubungan dengan kematian anak bisu dan tuli yang mati tercekik kemudian setelah dia mati pergelangan tangannya di sayat.”
Sam menggigit bibir. Penjelasan dari sahabatnya itu membuat dia terhenyak. Benar-benar kejam. Dia tidak menyangka ada seseorang di luar sana yang kini masih berkeliaran bebas yang telah membunuh seorang anak yang patut dikasihani. Seorang pembunuh yang berpakaian serba hitam yang sekarang pura-pura menangis di pemakaman. Atau bisa saja si pembunuh itu saat ini tengah menikmati hasil kerja kerasnya dengan berpesta, judi atau dengan segala hal yang membuat naluri membunuhnya senang. Sam merebahkan diri di sofa. Dia seakan dihantui rasa bersalah. Dia masih dapat merekam dengan jelas mata Hachiko yang bening sebelum tubuh kecilnya dimasukkan ke kantong jenazah. Mata tulus dari seorang anak penyandang cacat. Anak yang selama ini, mungkin, tidak diinginkan di lingkungan keluarganya. Melihat Sam diam, temannya berkata lagi,
“ Sam kau lihat genangan darah di toilet itu?”
“ Ya,”
“ Jika Hachiko mati karena sayatan di pergelangannya mestinya darah yang keluar adalah darah segar. Merah menyala. Tapi kau lihat darah itu mengental dan sedikit kehitaman”
Sam tertegun. Jadi siapa pembunuh Hachiko?
***
Pukul 2:50:20 PM waktu Leiden. Sehari setelah kematian Hachiko.
Untuk Hachiko. Semua penderitaan adalah pemanis hidup. Ia adalah jalan menuju keabadian. Jalan itu begitu sunyi dan kaki kecil kita harus melewatinya. Aku menyayangimu. Semoga Tuhan mengabulkan doamu.
-Michiko –
Setelah meletakkan seikat mawar, gadis kecil itu berlalu bersama gerimis yang kian melebat. Tanah merah sedikit menodai kaos kaki putih yang dipakainya. Dia menangis. Berkali-kali ia seka. Sang Ibu yang memayunginya merengkuh bahunya, mencoba memberi sedikit ketegaran pada putrinya. Langit Leiden mendung. Gerimis melebat. Rumput-rumput mengembun. Dedaunan luruh.
***





Tidak ada komentar:
Posting Komentar