“ Kau memanggilku?”
“ Aku kesepian.”
“ Hanya itu?”
“ Tidak.”
Dia membimbing Atmojo, mendudukkannya di pinggir ranjang yang kusut masai dengan seprei yang nyaris luruh ke lantai, lalu meraih dan mengusapi nganga luka dipergelangan tangan remaja itu. Seketika itu juga luka tadi mengering tanpa bekas segores pun dan tanpa noda darah setitik pun. Atmojo menatap lekat sosok didepannya dengan pandangan yang lain.
“ Kelak kau tidak perlu lagi mengiris tanganmu ,” kata Dia seraya meletakkan pisau yang di pegang Atmojo ke atas meja.
“ Lantas bagaimana aku bisa bertemu denganmu?”
“ Kau tidak usah mengharapkan itu lagi. Percuma.”
“ Maksudmu kamu tidak menginginkan ini?”
“ Ya. Terlalu membosankan.”
Atmojo kembali diam. Desah nafasnya yang kasar terdengar jelas. Ia menatap Dia. Masygul. Ada hampa, ada sepi. Ia merasakan betul kesepian itu. Tiba-tiba Atmojo mencium wangi bunga yang lamat-lamat terus berputar mengelilinginya. Kadang mawar, kadang melati, kadang cempaka, kadang kamboja. Dari wewangian itu menyeruak aroma kematian yang telah memvonis menemani hari-hari keterasingannya. Terkadang Atmojo ingin marah bila aroma kematian datang disaat Dia ada di sisinya. Atmojo ingin memaki namun lidahnya kelu, mungkin telah terputus oleh cahaya bulan yang selalu mencuri-curi untuk menerobos masuk lewat kisi-kisi jendela.
“ Apa yang kamu inginkan?”
“ Kau menemaniku. Itu saja, tidak yang lain.”
“ Kematian sudah menemanimu. Kau jangan serakah ataupun manja.”
“ Aku tidak suka padanya. Terlalu angkuh.”
“ Ini keputusanmu sendiri. Ingat, kau yang mengusulkannya. “
“ Aku tetap tidak suka!”
“ Kau tidak punya pilihan. Ini bayaran yang harus kau ambil.”
“ Tolonglah... Aku kesepian,” suaranya memelas
“ Tuhan tidak mengizinkan aku. Aku tidak bisa.”
Atmojo terdiam. Dia pun diam. Ada belati yang menikam cepat di jiwa Atmojo, melahirkan perih menembus dada memutuskan urat-urat darah dari otot-ototnya. Dada itu berdarah, sakit sekali. Atmojo mengeluh tertahan, ia berusaha tegar. Atmojo menekan dadanya. Darah merembes dari celah jemari kurusnya. Melihat hal itu Dia bangkit dan mendekati Atmojo, mengusapi dada lelaki muda itu dengan penuh perasaan. Sekejap luka itu merapat kembali. Perih juga hilang bersama anggapan Atmojo bahwa Dia tidak memperhatikannya lagi.
“ Kau terlalu berperasaan.”
“ Itu salah?”
“ Itu membuatmu lemah.”
“ Aku rapuh.”
“ Jangan...”
“ Hik...hik...hik...” Atmojo terisak. Air mata yang menjadi darah jatuh di dada telanjangnya. Mengalir hangat menjadi seratus kunang-kunang. Kunang-kunang itu membelah menjadi seribu kunang-kunang. Membelah lagi menjadi tiga ribu kunang-kunang, beterbangan memenuhi ruang kamar berpendar menerangi gelapnya malam. Ada merah, ada kuning, ada hijau, ada putih, ada hitam, membentuk segaris pelangi di sudut kamar. Atmojo menghentikan tangis, mencoba berdiri walaupun terhuyung. Ia ingin meraih pelangi itu dengan kedua tangannya tetapi Dia mencegah.
“ Kau tidak akan bisa meraihnya.”
“ Aku bisa. Dengan kedua tanganku.”
“ Pelangi itu harapanmu. Sedang kau telah kehilangan itu.”
“ Kalau begitu tolong cegah pelangi itu pergi. Suruhlah menemaniku. Malam ini saja.” Atmojo beringsut mendekati Dia. Menggapai kakinya dan menatap penuh harap.
“ Aku tidak kuasa. Aku bukan Tuhan.”
“ Tuhan? Siapa ? Aku ingin jumpa dengan-Nya.”
“ Tidak bisa.”
“ Kenapa?”
“ Kau kotor.”
Hening. Atmojo terduduk di lantai. Menekur lirih menapaki sketsa pelangi yang telah lama pergi. Ada bayu mengalir bening dari balik malam membisikkan suatu alunan yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Alunan itu terhenti, berganti petikan kecapi yang di petik dengan syahdu mendayu.
“ Kalian Tuhan?!” pekik Atmojo. Tidak didengarnya jawaban. Berulang ia tanyakan itu, berulang pula ia tak mendapati jawaban.
“ Mereka bukan Tuhan. Itu harapanmu,” jawab Dia.
“ Harapan? Tapi aku tidak mengenalinya,” potong Atmojo.
“ Itu karena dirimu kotor.”
“ Bagaimana agar aku bersih?” Atmojo bersemangat. “ Kalau aku bersih aku bisa bertemu Tuhan, ya ’kan?”
Dia kembali mendudukkan Atmojo di atas ranjang. Atmojo melihat tangan Dia yang tidak berbentuk menusuk dadanya yang merah. Tangan itu menyeruak masuk mengambil sesuatu di dalamnya. Jantung! Ya, jantung. Jantung yang berlumuran darah itu diberikannya kepada Atmojo.
“ Makanlah.” Jantung sebesar kepalan tangan itu disodorkannya di depan mata Atmojo. Jantung itu menebarkan aroma anyir yang sangat memualkan. Atmojo ingin muntah. Tetapi ia yakin tak ada yang dapat dimuntahkannya.
Jantung itu bercahaya. Dari sinar peraknya muncul bayangan Bapak, Ibu, Kakak, dan adiknya. Cahaya perak itu menjadi cermin. Ia mengaca, menatap heran wajah asing disana.
“ Itu wajahmu,” kata Dia dingin.
“ Bukan! Ini topeng!” bantah Atmojo. Ia tidak yakin melihat wajah di cermin cahaya itu adalah wajahnya. Ia sama sekali tidak percaya.
Ia masih mengingat jelas bagaimana bentuk wajahnya dulu. Ingat bagaimana ia di kejar-kejar beberapa orang gadis yang terpikat akan ketampanannya. Juga masih mengingat jelas bagaimana seluruh peserta perta malam itu terpana mendengar suaranya saat ia menyanyi atau bagaimana saat ia bertemu Wulan, pacarnya.
“ Wulan...” desisnya.
“ Wulan sudah pergi. Kau tidak usah mengingatnya lagi,” Dia membuyarkan lamunan Atmojo.
“ Aku akan menemuinya nanti. Wulan pasti kangen padaku, ya seperti dulu.”
“ Mengacalah! Itulah wajahmu. Kau menakutkan. Seperti monster. Menjijikkan,” cibir Dia.
“ Tidak! Katakan itu bukan wajahku! Bukan!!!” bantah Atmojo. Ia sangat takut bila itu semua memang terjadi.
“ Sudahlah. Sekarang makan jantung itu. Kau ingin bertemu Tuhan, ’kan?”
Atmojo tercenung. Ia gamang. Akankah ia makan jantung itu.
“ Aku sudah memakan jantungku sendiri. Jantung Ayahku, Ibuku, juga Kakak Adikku. Apa belum cukup?”
“ Belum. Kau kotor, kau harus makan jantung itu.”
“ Tidak!”
“ Makanlah atau aku akan memaksamu!”
“ Kau?!”
Atmojo marah dan entah kekuatan darimana ia lemparkan jantung itu ke dinding. Jantung itu pecah, menempel lalu meleleh seperti telur. Anyir merebak, menyesakkan dada saat Atmojo bernafas. Lelehan yang berwarna hijau pekat yang membasahi sebahagian dinding itu bergerak-gerak. Tidak berapa lama kemudian menjadi ulat-ulat hijau ratusan ekor. Mereka merayapi dinding dan membentuk satu kata : HELL. Tiba-tiba ada bara api di mata Dia. Menyembur murka dan ingin menjilati tubuh ringkih Atmojo. Ia berkelit, melompat ke samping lantas mendarat ringan di pojok kamar. Ia heran, ia punya tenaga. Padahal tadinya untuk duduk saja ia tidak mampu.
“ Kau sangat lancang, Atmojo.....!!!”
Kamar pun berubah menjadi neraka. Atmojo tergugu. Dihadapannya kini hanyalah hamparan api dan gulungan asap. Kamar yang sedianya gelap menjadi benderang. Berkobar. Panas. Gerah. Api dan asap mengepungnya. Dengan pongah api menarik-narik kakinya. ” BUUGGGG!!!!” Asap menendang perutnya. Api membungkus badannya. Asap menertawakan kelemahannya. Ia terpelanting ke kanan dan ke kiri. Membentur kaki ranjang hingga ia mengeluh. “AAAKKHHH TOLOOONG!!!” Ia ingin melawan, ia ingin mengelak, ia tidak bisa. Namun satu yang tidak disadarinya bahwa bibirnya mengucap nama Tuhan.
“ Sejak kapan kau mengenal Tuhan?!” api mencibirnya.
“ Tuhan bagimu hanya judi dan minuman!” tambah asap.
“ Kau pembangkang! Seandainya kau mati pun belatung-belatung tidak akan sudi memakanmu!” sambut api seraya meggulung tubuh Atmojo.
“ Akh....!!! Tolong....!!! Tolong...!!! Panas...!!!” pekiknya.
Namun api dan asap tidak menghiraukan pekikan itu. Mereka terus saja menyiksa pemuda itu dengan garangnya. Tubuh Atmojo hangus. Terbakar. Raganya melebur hancur. Ia merasa terbang. Makin tinggi dan makin tinggi. Api menjadi hitam, asap hitam, semua hitam.
***
Atmojo merasakan panas di wajahnya. Ia menggeliat sebentar lantas dengan perlahan membuka matanya. Beberapa larik sinar masuk menerobos retina matanya dan membentuk spektrum cahaya di pupilnya. Ia memejamkan mata, silau. Tidak perlu beberapa waktu sampai mata itu terbiasa dengan cahaya matahari. Dan tidak perlu beberapa detik sampai Atmojo merasa bingung dan bertanya-tanya dimana ia sekarang.
Kelopak mata sayu itu membulat. Ia heran, di sekelilingnya sekarang hanyalah sekumpulan rumput yang meranggas terpanggang matahari. Rumput-rumput itu tumpuk-menumpuk di bebatuan, tidak beraturan dan terkesan asal tumbuh. Bebatuan hitam kecoklatan itu meruncing di setiap sisinya sehingga memunculkan kesan tidak bersahabat bagi siapapun yang mendekatinya. Indera penciumannya mengendus aroma anyir yang datang bersamaan dengan gemuruh air yang menghempas bebatuan yang disampaikan sensor indera pendengarannya. Walaupun bingung Atmojo beringsut juga ke sisi kanan dan “ AAAAWWW...!!!” ia memekik dan kembali terduduk. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Degup jantungnya memompa darah lebih cepat hingga ia terengah-engah. Ia tidak percaya, ya...tidak percaya. Atmojo kini sepenuhnya sadar bahwa ia tidak berada di atas kasur yang empuk dan ruangan sejuk. Tetapi ia sepenuhnya sadar bahwa ia akan tergelincir jatuh jika tidak awas. Ia kini ada di dunia antah berantah, tiada ujung pangkal. Yang ia inginkan sekarang adalah berada di rumahnya, tapi ...
Dengan lutut gemetar Atmojo mencoba bangkit, walau begitu tiap kali ia menghela nafas tiap kali pula ia harus menenteramkan degub jantungnya sendiri yang takut oleh bunyi ombak yang menghantam batu tempat ia berpijak. Tuhan, aku belum belum mau mati, batinnya. Tetapi ia sendiri belum yakin apakah Tuhan mau mendengar pintanya, atau lebih tepatnya rengekan, agar Tuhan sudi mengotori tangan-Nya untuk menolong dirinya.
“ Hey...!!! Tolong aku...!!! Ada yang mendengar...??!!
Kepanikan yang luar biasa terpancar jelas di wajahnya yang kini tanpa rona. Ia memanggil-manggil nama-nama orang yang ia kenal dan meminta tolong namun tidak ada seorang pun yang menjawab panggilan tersebut. Semuanya kosong, hanya dirinya kini yang terkurung di atas bebatuan tak bertuan ditengah birunya lautan. Lautan bernyanyi, mengecup lidah ombak yang menghempas batu hitam itu. Hanya ada beberapa camar yang menukik rendah mengelilinginya dengan perut lapar. Haruskah aku meminta tolong pada hewan itu? Atau aku akan mati lantas jasadku menjadi pengganjal perut mereka?
***
Hari beranjak petang. Di ufuk barat semburat kuning keemasan masih menggantung di cakrawala. Beberapa butir gemintang berkedip bak untaian mutiara yang tersepuh sinar lampu. Burung-burung sudah pulang ke sarangnya ketika Atmojo baru saja keluar dari gerbang masjid dan mendengar seseorang memanggilnya.
“ Atmojo!” Ia menoleh, tapi tidak ada siapa pun. Hening. Ia hanya mendengar desah angin di telinganya.
“ Siapa kau?!”
“ Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas aku tahu siapa kau.”
“ Apa maumu?!”
“ Terkadang Atmojo seseorang bisa saja berbohong untuk menutupi kekurangannya.”
“ Apa maksudmu?!”
“ Mengacalah, Atmojo! Kau baru saja memainkan peran yang sangat mengesankan! Drama yang sangat alami. Kau berharap bisa menipu Tuhan hanya dengan sujudmu! Ha...ha...ha...!!! Kau sangat mengesankan!”
“ Kurang ajar! Siapa kau?! Tunjukkan dirimu!” Wajah Atmojo mengeras, merah. Tangannya mengepal.
“ Kau... PECUNDANG!!! Kau hanya berpikir bagaimana caranya menukar ibadahmu yang sekelumit itu dengan kebahagian? Sungguh tidak masuk di akal!
“ Pengecut! Tampakkan dirimu!” Atmojo menoleh ke sekelilingnya. Ia tidak mendapati siapa pun. Matanya menatap awas jika ada gerakan sehalus apap pun. Yang ia mau saat ini ialah menumpahkan semua kekesalannya pada si pemilik suara. Mungkin dengan memukul, atau menendang, atau mencubit, atau mungkin menjambak rambutnya. Pokoknya ia puas. Lagi-lagi ia tidak mendapati siapa pun. Kosong. Hampa.
“ Kau sangat takut neraka bukan? Makanya kau datang ke masjid. Kau hanya menjadi seorang penipu saja. Kau berharap Tuhan mau mengampunimu hanya dengan sekelumit pengabdianmu!”
“ Pengecut...!!!” Ia benar-benar marah. Ia memaki. Ia menghujat. Tetapi siapa yang dimaki dan dihujat?
“ Surga itu mahal, Atmojo. Kau harus membayar itu dengan seluruh jiwamu. Tapi aku yakin, kau tidak akan sanggup untuk itu. Kau hanya memakai topeng yang dipoles dengan bedak kepura-puraan. Munafik!”
Atmojo mengayunkan tinjunya ke depan dan ke belakang mencoba memukul si pemilik suara. Dengan penuh amarah ia menendang bayangannya sendiri walau ia tahu itu percuma saja. Dan sejak saat itulah Atmojo kian akrab dengan kegelapan. Ia mencoba mencari si pemilik suara dan ingin bersahabat dengannya. Atmojo yakin ia akan mendapatkan kedamaian walau hanya sekejap.
***
Diatas ranjang berseprei putih ia tergeletak lemah. Mukanya yang pucat memberi kesan semakin lemah di balik ototnya yang kurus tirus. Ada baret bekas luka di pipi sebelah kanannya, memanjang dari pelipis dan menyamar di bagian dagu. Perlahan ia membuka kelopak matanya. Silau, tatkala sebagian pupil matanya menangkap ribuan cahaya yang mencoba mengengoknya malu-malu dari jeruji jendela. Ia kembali menutup matanya. Rambutnya kali ini tersisir rapi. Angin pagi berkunjung. Beberapa anak rambut mencoba bermain di daun telinganya. Ia mendesah pelan, ia merasakan ada usapan lembut di keningnya. Ia mendengar seseorang menyebut namanya. Ia kenal suara itu. Ia rindu. Ketika ia membuka matanya kembali, ia mendapati wajah yang sangat ia rindukan. Ia ingin memeluk pemilik wajah itu. Ia ingin sekali.
“ Nak, bangunlah. Lihat hari sudah siang. Kau harus segera bangun.” Ia kembali membuka matanya. Ia melihat senyum. Ia melihatnya. Takjub. Ia ingin melihat lagi, tak berkedip.
“ Kak, bangunlah. Andi kangen kakak. Ayo kita main bola lagi.” Ia memberi reaksi pelan ketika tangannya yang penuh luka di pergelangan itu tersentuh jemari mungil. Hangat, ia merasakan kehangatan. Jauh dari labirin dingin yang selama ini menemaninya. Ia diam. Ia ingin tersenyum, namun bibirnya masih terpateri entah oleh apa. Air matanya menganak sungai. Ia laki-laki, ia menangis. Ia merasa cengeng. Mungkin dengan begitu ia bisa mengatakan bahwa ia pun sayang kepada mereka. Tidak ingin lagi membangun jurang yang ia ciptakan sendiri bersama ego dan keangkuhannya.
“ Kalau masih ada waktu, Nak. Kita masih bisa bersama seperti dulu lagi. Tapi jika tidak... Kau harus bisa hidup berdikari dan jalani hidup seperti yang Ibu minta.”
Bersamaan dengan itu ia melihat hampa. Ibunya melenyap. Ia menoleh ke kiri, Adiknya juga melenyap. Kosong. Ia memanggil-manggil dengan suara yang tidak terdengar. Ia takut. Ia tidak ingin sendiri lagi. Ia butuh Ibu. Ia butuh Adik. Ia meronta dengan tubuh yang tidak bisa bergerak. Ia panik. Ia meronta lagi. Ia memanggil lagi. Ia merasa kosong lagi. .
***





Tidak ada komentar:
Posting Komentar